Alhamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Takwa bukanlah semata-mata kata yang diucapkan seseorang dengan lisannya. Bukan pula suatu klaim dan pengakuan. Hakikat takwa kepada Allah Ta’aala adalah seseorang melakukan amalan ketaatan berdasarkan petunjuk dari Allah dengan berharap pahala dari-Nya. Dan meninggalkan perbuatan maksiat berdasarkan petunjuk dari Allah dengan perasaan takut akan adzab-Nya. Takwa kepada Allah adalah melakukan apa diperintahkan dan meninggalkan semua yang dilarang. Oleh karena itu, kemaksiatan itu terbagi menjadi dua: melakukan yang dilarang dan meninggalkan yang diperintahkan.

Pertama: Meninggalkan perintah.

Inilah kemaksiatan yang dilakukan oleh Iblis kepada Rabbnya. Allah Ta’aala perintahkan ia untuk bersujud pada Adam, tapi dia tidak mau.

Kedua: Melakukan yang dilarang.

Inilah dosa yang dilakukan Adam. Allah Ta’aala melarangnya untuk memakan buah suatu pohon. Namun ia tetap memakannya. Adam pun menyesal. Kemudian bertaubat kepada Allah Ta’aala.

Dari sisi kadarnya, dosa juga terbagi menjadi dua: dosa besar dan dosa kecil. Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus. Dan tidak ada dosa besar jika diiring taubat dan penyesalan. Dalam Alquran banyak dijelaskan tentang peringatan menjauhi dosa besar. Dan penjelasan hikmah dan buah dari menjauhi dosa besar itu berupa dampak yang terpuji dan keberkahan di dunia dan akhirat.

Allah Ta’aala mengabarkan bahwa orang yang menjauhi dosa besar, maka mereka mendapatkan ampunan dari kesalahan yang telah mereka lakukan dan memasukkan mereka ke surga.

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS:An-Nisaa | Ayat: 31).

Allah menyebutkan sifat-sifat hamba-Nya yang memiliki keimanan sempurna, yakni menjauhi dosa besar.

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS:Asy-Syuura | Ayat: 37).

Allah menjanjikan rahmat dan ampunan bagi mereka yang menjauhi dosa besar. Allah Ta’aala berfirman,

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya.” (QS:An-Najm | Ayat: 32).

Wajib bagi setiap muslim menjauhi dosa besar. Menjauhi dosa-dosa tersebut adalah bagian dari pengetahuan tentang dosa itu. Karena bagaimana mungkin seseorang bisa menjauhinya apabila ia tidak mengetahui suatu perbuatan dikategorikan sebagai dosa. Apa yang harus dijaga seseorang ketika dia tidak mengetahui apa yang harus dijaga.

Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam telah menasihati umatnya dengan nasihat yang sempurna. Beliau mengajak dan menyeru umatnya kepada semua kebaikan. Dan juga melarang mereka dari semua yang buruk dan rendah. Banyak riwayat dari beliau yang memperingatkan umatnya tentang dosa besar dan bahayanya. Serta apa yang dipersiapkan oleh Allah bagi pelakunya. Berupa hukuman di dunia dan akhirat.

Dosa besar adalah semua perbuatan yang mendapat hukum had di dunia dan ancaman di akhirat. Setiap perbuatan dosa yang disebutkan dalam Alquran dan hadits, diakhiri dengan laknat, ancaman yang keras, dan pelakunya diancam masuk neraka atau tidak dimasukkan ke dalam surga atau tidak mencium bau surga. Demikian juga dengan dosa yang disebutkan dengan kata-kaka “tidak beriman” atau “bukan termasuk golongan kami”. Atau disebutkan juga dalam teks hadits sebagai dosa yang membinasakan. Semua itu menunjukkan bahwa dosa tersebut dosa besar.

Di antaranya adalah sebagaimana termaktub dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘Alihi Wasallam bersabda,

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

“Jauhilah 7 dosa yang membinasakan…”

Disebutkan denga kata membinasakan karena dosa-dosa ini membinasakan pelakunya di dunia dan akhirat.

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ ، قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ ؟ قَالَ : الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa yang membinasakan tersebut?” Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh kecuali jika lewat jalan yang benar, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, menuduh wanita mukminah yang baik-baik dengan tuduhan zina.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam Shahihain terdapat sebuah hadits dari Abi Bakrah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda,

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

“Perhatikanlah (wahai para sahabat), maukah aku tunjukkan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam mengatakannya tiga kali. Kemudian para sahabat mengatakan: “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua,” sebelumnya beliau bersandar, lalu beliau duduk dan bersabda, Perhatikanlah! Dan perkataan palsu (perkataan dusta),” beliau selalu mengulanginya sampai kami berkata, “Seandainya beliau berhenti”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah melewati dua kuburan, lalu beliau berhenti di sana dan bersabda,

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنْ بَوْلِهِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

”Sungguh keduanya sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak memperhatikan kesucian dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar adu domba.”

Perhatikanlah “keduanya diadzab” di dalam kuburnya “diadzab bukan karena hal yang besar” maksudnya adalah keduanya diadzab bukan karena permasalahan yang dianggap besar oleh manusia. Bahkan sebabnya adalah perkara kecil dan remeh oleh orang-orang. Mengadu domba adalah sesuatu yang mudah untuk ditinggalkan. Bersuci dari kencing adalah perkara yang mudah bagi setiap orang. Karena perkara ini dianggap remeh, maka Nabi ﷺ ingatkan, ini bukanlah perakara remeh. Ini masalah serius dan besar. Bahkan termasuk dosa besar.

Dosa-dosa besar adalah pembahasan besar dalam bab fikih. Oleh karena itu, umat Islam harus memiliki perhatian besar dalam permasalahan ini. harus berusaha mengetahui dan memahaminya melalui nash-nash syariat. Dari sana akan muncul semangat dan dorongan untuk menjauhinya.

Para ulama semenjak dahulu, telah membahas permasalahan ini. Mereka menuliskannya dalam buku-buku mereka. Hendaknya kaum muslimin bersemangat mengkaji dan membacanya walaupun hanya sebagian buku saja. Sebagai nasihat dan pengetahuan tentang dosa-dosa besar. Dengan pengetahuan itulah kaum muslimin bisa menghindarinya.

Akhirnya, semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah serta taufiqnya kepada kita semua agar dijauhkan dari perbuatan yang menjerumuskan kita pada dosa besar..Aamiin.[]

 

rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.