Allah Berfirman:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud . Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS Al-Fath : 29).

Imam Malik rahimahullah berkata tentang ayat ini : “Barang siapa diantara manusia yang didalam hatinya ada rasa benci kepada salah seorang saja dari para sahabat rasulullah a maka sungguh telah terkena ancaman ayat ini (yakni kafir, karena Allah menyanjung para sahabat o didalam ayat ini, agar orang kafir jengkel). Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukil perkataan Imam Malik rahimahullah dalam kitab Tafsirnya, “Orang-orang yang membenci para sahabat Rasulullah adalah orang kafir” (kitab Tafsir Ibnu Katsir 5/367). Maka mereka yang mencaci atau mencela para sahabat bahkan mengkafirkannya memiliki beberapa konsekwensi diantaranya :

  1. Meragukan Al-Qur’an, karena al-Qur’an memuji dan menyanjung para sahabat.
  2. Meragukan As-Sunnah, karena as-Sunnah banyak memuji para sahabat.
  3. Mencela Al-Qur’an, As-Sunnah bahkan Agama Islam itu sendiri, karena yang membawa al-Qur’an, As-Sunnah dan Islam adalah para Sahabat, maka mencela yang membawa berarti pula mencela yang dibawa.
  4. Kalau para sahabat tercela yang mana mereka generasi awal dari umat ini, maka seburuk-buruk umat adalah umat ini yaitu umat nabi Muhammad .
  5. Meragukan Rasulullah karena gagal mendidik para sahabatnya.
  6. Menganggap Allah tidak tahu yang akan terjadi karena memuji para sahabat sedangkan pada akhirnya mereka akan murtad.

Imam Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullah mengatakan :

إذارأيتَ الرَّجلَ يَنْتَقِصُ أحداً مِنْ أصحابِ رسولِ الله a ؛ فاعْلَمْ أنَّه زِنْدِيقٌ ، وذلك أنَّ الرَّسولَ a عندنا حقٌّ ، والقرآنَ حقٌّ ، وإنَّما أدَّى إلينا هذا القرآنَ والسُّنَنَ أصحابُ رسولِ الله a ، وإنَّما يريدون أنْ يُجَرِّحُوا شهودَنا لِيُبْطِلُوا الكتابَ والسُّنَّةَ ، والجَرحُ بهم أَوْلَى ، وهم زَنادِقَة

“Apabila engkau melihat ada orang yang mencela salah seorang dari sahabat rasulullah a maka kethuilah bahwasanya ia adalah zindiq (munafik yang ingin merusak islam dari dalam), yang demikian itu karena bahwasanya (sunnah) Rasulullah dan al-Qur’an adalah benar adanya, dan yang telah menyampaikan Qur’an dan Sunnah itu adalah para sahabat Rasulullah , oleh karena itu mereka mencela para saksi-saksi kita (para sahabat o), untuk membatalkan keabsahan Qur’an dan Sunnah, maka sebenarnya yang layak dicela justru mereka dan mereka kaum adalah Zindiq”. (Kitab Al-Kifayah Fi ‘Ilmir Riwayah : 104).

Manusia setelah para sahabat walau sehebat apapun amalan mereka maka tidak akan bisa menyamai apalagi mengalahkan amalan para sahabat, ini semua adalah karena semata-mata pertemuan dengan Nabi dalam keadaan beriman dan wafat diatas Islam.

Rasulullah  bersabda :

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوالذي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Karena Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, Seandainya salah seorang dari kalian menginfaqkan emas sebanyak bukit uhud, tidak akan ada yang menyamai satu timbangan (pahala) seorangpun dari mereka, juga tidak akan sampai setengahnya”. (HR Mutafaq ‘Alaih).

Imam Ahmad rahimahullah berkata :

ثُمَّ أَفْضَلُ النَّاسِ بَعْدَ هَؤُلاَءِ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللَّهِ a اَلْقَرْنُ الَّذِيْ بُعِثَ فِيْهِمْ كُلُّ مَنْ صَحِبَهُ سَنَةً أَوْ شَهْرًا أَوْ يَوْمًا أَوْ سَاعَةً أَوْ رَآهُ فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِهِ لَهُ مِنَ الصُّحْبَةِ عَلَى قَدْرِ مَا صَحِبَهُ، وَكَانَتْ سَابِقَتُهُ مَعَهُ وَسَمِعَ إِلَيْهِ وَنَظَرَ إِلَيْهِ نَظْرَةً. فَأَدْنَاهُمْ صُحْبَةً هُوَ أَفْضَلُ مِنَ اْلقَرْنِ الَّذِيْنَ لَمْ يَرَوْهُ. وَلَوْ لَقُوْ اللَّهَ بِجَمِيْعِ اْلأَعْمَالِ.

“Kemudian seutama-utama manusia setelah mereka (Abu Bakara, Umar, Utsman, Ali, Az-Zubair, Thalhah, Abdurahman Bin ‘Auf, Ahlu Badr, dan yang lainnya yang memiliki keutamaan o) adalah para sahabat Rasulullah  lainnya, yakni generasi yang beliau diutus di tengah-tengah mereka. Karena itu setiap orang yang menemani Beliau a baik selama setahun, sebulan, sehari atau sesaat atau hanya sekali melihat beliau a maka ia termasuk sahabat rasulullah a. Ia mendapat status sebagai seorang sahabat sesuai dengan kadar persahabatannya. Keterdahuluannya bersama rasulullah, mendengar serta melihat beliau. Yang paling rendah diantara mereka tetap lebih utama daripada generasi yang tidak menyaksikan beliau walaupun ia mati dengan membawa seluru amal kebaikan”. (kitab Ushulus Sunnah, Imam Ahmad hal, 17)

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.