Pernahkan anda bertanya kepada diri anda sendiri, tentang keadaanmu saat ini, beruntung atau tidak? Bahagia atau tidak? Puas atau tidak? Apakah hari ini melakukan dosa? Apakah hari ini sudah ada amalan baik yang telah aku kerjakan?
Tentu suatu beban ketika kenyataannya, untuk menjadi seorang yang beruntung, bahagia, puas dengan kehidupan, jauh dari perbuatan dosa dan selalu berbuat baik adalah sesuatu yang berat perjuangannya. Memikirkannya saja sudah membuat kita putus asa.
Di sisi lain semua itu adalah suatu impian dari kehidupan yang ideal bagi setiap orang. Namun, tahukah bahwa ada alternatif untuk menjadikan diri kita menjadi sosok tersebut. Solusinya adalah kita harus menemukan kuncinya. Kunci untuk menjadi bahagia, puas, jauh dari dosa dan banyak melakukan kebaikan.
Kuncinya adalah ada pada hadits yang Rasulullah ajarkan kepada umatnya:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ.

“Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.”

Ia adalah kunci dari kebahagiaan yang hakiki. Kunci dari semangat hidup dan gairah penghambaan kepada Allah. Ya, kuncinya adalah keadaan hati kita.
Namun untuk memperbaikinya tentu kita perlu tahu bagaimana keadaan hati kita sebenarnya. Apakah hati kita hidup, sakit atau mati? Maka celakalah mereka yang hatinya mati.
Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal Rabb-nya. Ia selalu berjalan bersama hawa nafsu dan mencari kenikmatan duniawi semata, meskipun itu dibenci dan dimurkai oleh Allah subhanahu wata’ala. Hati yang semacam ini tidak akan peka terhadap peringatan. Allah subhanahu wata’ala berfirman;

إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ. خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ.
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup]. Dan bagi mereka siksa yang pedih.”

Ya, hati yang mati adalah mereka yang tidak mengenal Rabnya. Mereka lupa bahkan tidak tahu bahwa mereka adalah hamba Allah yang diciptakan. Mereka tidak sadar bahwa mereka adalah makhluk lemah di depan Rab penciptanya.
Ketika tidak mengenal Rabnya, maka hilanglah kesadaran dirinya dalam memahami hidup dan hilanglah sikap membatasi dirinya dari perbuatan yang berlebihan.

Ketika lupa Tuhannya, maka lupa juga dia kepada hakikat kehidupan. Kehidupan yang seharusnya adalah tempat bersinggah malah dijadikan dan dianggap sebagai tempat bersuka cita. Inilah ciri-ciri hati yang mati. Dari sini maka terlihatlah mereka yang hatinya mati. Mereka tidak akan terima ketika dinasehati, mereka tidak akan menerima ketika diberikan petunjuk kepada kebaikan. Seakan telinga mereka anti dan alergi kepada ayat-ayat Allah, mereka akan berkata kepada orang yang menasehati “ini adalah hidup saya, maka saya akan lakukan apa yang saya suka,”
(aboeghozie,sendia/rumahhufazh)

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.