Hati adalah tempat terdalam bagi seorang manusia. Di hati seluruh rahasia seorang manusia disimpan. Ia tidak terlihat oleh sepasang mata dan tidak pula tersusupi oleh sebutir debu. Tidaklah hati berpengaruh melainkan dengan sesuatu yang manusia itu memasukan ke dalamnya, oleh dirinya sendiri.

Apa yang ada di dalam hati adalah sesuatu yang penting bagi manusia itu. Bukankah cita adalah sesuatu yang penting dan bernilai? Bukankah kekasih adalah sesuatu yang tak terhingga harganya? Bukankah petunjuk Allah itu bermula dari hati? Ya, karena semua itu berada di dalam hati. Sesuatu yang berharga berada di dalam hati yang terdalam.

Apa yang ada di hati itu mempengaruhi apa yang ada dalam jasad kita. Maka bila hati ini keras dan kotor maka kita tahu sendiri jawabannya. Ya, maka jasad dan amalan akan kotor dan jelek.

Dengan mengingat dan merenungkan kematian, hati menjadi lembut, takut, dan hidup , sebagaimana hati menjadi tenang dan tenteram dengan berdzikir mengingat Allah subhanahu wata’ala, sebaliknya hati yang kosong dari mengingat kematian, lalai dari mengingat Allah subhanahu wata’ala, menjadikan hati rusak, keras, panjang angan-angan, yang berujung dengan kematian hati wal’iyadzubillah. Oleh karena itu Ar-Rabi’ Bin Khutsaim rahimahullah   mengatakan :

لَوْ ذِكْرُ اْلمَوْتِ غَابَ عَنْ قَلْبِيْ سَاعَةً لَفَسَدَ عَلَيَّ قَلْبِيْ

“Seandainya mengingat kematian hilang dari hatiku niscaya rusaklah hatiku ini”.

Orang yang hatinya lalai dari mengingat mati, maka harapan dan angan-angannya terhadap dunia demikian besarnya, akan merasa iri atas ni’mat orang lain, merasa kurang menerima serta bersyukur atas pemberian Allah subhanahu wata’ala, sehingga saat kematian tiba yang timbul penyesalan yang tiada berguna, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (QS Al Mu’minun : 99-100)

(Aboeghozie/Sendia/Rumahhufazh)

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.