Berikut penjelasan Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi tentang merubah fisik ciptaan Allah

Pertanyaan.
Apakah batasan pelarangan taghyîr khalqillah (merubah fisik ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala )?

Jawaban
Untuk menjawab persoalan ini memerlukan penjelasan yang detail. Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ خَلْقِ اللهِ تَعَالىَ حَسَنٌ

“Setiap ciptaan Allah Ta’ala itu baik”. [Shahîihul Jâmi’ : 4522]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melaknati wanita-wanita yang mentato, meminta ditato, mencabuti bulu alis dan memperbaiki susunan gigi-giginya, beliau mensifati mereka dengan sifat ‘yang melakukan perubahan terhadap fisik ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala’.[1]

Jadi, setiap usaha merubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang baik supaya tampak lebih bagus masuk dalam konteks larangan ini.

Akan tetapi, misalnya seseorang telah terbakar salah satu bagian tubuhnya, tangan, wajah atau kulit. Kejadian ini berdampak membuat kondisi kulitnya tidak normal, tidak seperti berfungsi seperti asalnya, lantas melakukan operasi, maka tindakan ini tidak masuk kategori taghyîr khalqillah (yang terlarang).

Atau seseorang, maaf, gigi-giginya monyong ke depan. Hingga sulit baginya untuk makan, berbicara atau mengeluarkan huruf-huruf dari makhraj-makhrajnya (tempat-tempatnya). Apabila ia melakukan operasi untuk menormalkannya bukan diniatkan tajammul (memperbaik penampilan), namun supaya bicaranya normal, maka ini hukumnya boleh. Contoh-contoh kejadian lainnya diqiyaskan dengan keterangan ini.

Akan tetapi, kita tidak boleh melakukan apa yang berkembang di kalangan orang-orang kafir dan sebagian kaum muslimin. Misalnya, hidung yang pesek, ingin dirubah menjadi mancung, supaya mirip dengan hidung orang-orang Barat, lantas menempuh cara operasi, ini tidak boleh.

Namun, umpamanya hidung yang pesek ini menyebabkan nafasnya sesak. Bila mesti bernafas dengan mulut, akan menyebabkan rasa sakit, kemudian ia menempuh operasi supaya pernafasannya normal, ini boleh. Operasi seperti ini berbeda dari operasi untuk keperluan memperbaik penampilan.

Jadi, terdapat perbedaan antara operasi plastik yang diharamkan dengan operasi plastik yang hukumnya jaiz, yang ditujukan untuk menormalkan fungsi anggota tubuh, entah karena terbakar atau lainnya. Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.]

 

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.