Rumahhufazh – Menjadi seorang hafiz merupakan hal yang tidak mudah. Mereka yang memutuskan untuk menjadi penghafal Alquran harus menjalani proses yang cukup panjang.

Hal ini juga dialami oleh tiga saudara kembar, Abdul Hannan Jamaluddin, Abdul Mannan Jamaluddin, dan Abdul Ihsan Jamaluddin. Pemuda-pemuda tampan yang 11 Juni nanti berusia 18 tahun itu secara bersama memutuskan untuk menjadi seorang penghafal Quran.

Langkah mereka mendapat dukungan dari orangtua, Agus Jamaluddin dan Sukrimiyati. Mereka kemudian diantarkan ke Pesantren Darul Quran untuk menjadi hafiz. Bahkan, mereka pun memutuskan untuk meninggalkan sekolah agar bisa fokus menghafal Alquran.

Berikut perbincangan Dream.co.id dengan Ihsan yang didampingi Mannan dan Hannan melalui sambungan telepon, di sela roadshow ketiganya di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Bagaimana awalnya kalian memutuskan menjadi hafiz?
Dulu kita cuma sekolah biasa. Kita ada keinginan untuk menghafal Alquran setelah membaca hadis. Hadis tentang hafalan Alquran, yang artinya kurang lebih “Barangsiapa yang menghafal Alquran dan mengamalkan kandungannya maka di hari kiamat nanti kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota yang cahayanya lebih indah daripada matahari yang menyinari rumah-rumah di dunia.” (Hadis yang dimaksud diriwayatkan oleh Abu Dawud).

Kami berpikir, di dunia kami tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasa orangtua. Namun kami berpikir, ya, setidaknya lah kita membahagiakan dan memuliakan kedua orang tua kami di akhirat. Dan Insya Allah orang tua akan bahagia dunia akhirat

Berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk bisa hafal Alquran?
Kami benar-benar hafal Alquran awal 2012, Alhamdulillah, selesai dalam sembilan bulan.

Selama menghafal Alquran, apa ada aktivitas lain, seperti sekolah?
Kita dulu pernah sekolah di daerah Solo. Sekarang kita tidak sekolah. Kita mau fokus menghafal Alquran. Sekarang kita di Daarul Quran.

Kalau belajar, tetap. Tapi tidak seperti sekolah umum. Home schooling. Jadi kita belajar sendiri. Kalau belajar sih tetap. Tapi tidak seperti sekolah umum.

Ada yang membimbing?
Ada ustaz yang membimbing kami. Kata beliau, gak usah sekolah, hafalan Alquran saja. Insya Allah yang lain akan mengikuti nanti.

Waktu mulai, surat apa saja yang diwajibkan untuk kalian hafal?
Empat surat pilihan. Al Waqiah, Ar Rahman, Al Mulk, sama Yasin. Bisa selesai antara satu sampai dua bulan.

Berat tidak menjalani proses menghafal Alquran?
Awalnya berat. Cuma namanya sudah ada keinginan menghafal Alquran. Walaupun berat kita paksakan. Seiring berjalannya waktu, kita merasakan ada kenikmatan.

Metode apa yang kalian pakai dalam menghafal Alquran?
Macam-macam metode kita coba. Kita hafalkan dengan membaca diulang-ulang sampai 60 kali. Awalnya minimal 20 kali, sekarang 60 kali.

Kenapa sampai 60 kali?
Karena semakin sering mengulang, semakin hafal. Ibaratnya orang lewat sebuah jalan. Kalau orang lewat jalan yang sama selama 20 kali dengan 60 kali, pasti lebih hafal orang yang lewat 60 kali jalan itu.

Soal keluarga, apa profesi orangtua kalian?
Orangtua saya mengajar, mubaligh di Batam. Ayah saya asli garut, Ibu asli Cilacap. Ayah punya yayasan, Ummul Quran. Bergerak di banyak hal. Salah satunya adanya klinik herbal.

Berapa saudara yang kalian miliki?
Kita ada delapan saudara. Kemarin ada yang meninggal, Sarah. Yang besar itu kakak perempuan dan kami bertiga. Nama ayah, Agus Jamaluddin, 38 tahun. Ibu Sukrismiyati. Kakak kami, Diva Tanisya Alifa Desti, 19 tahun. Kami Abdul Hannan Jamaluddin, Abdul Mannan Jamaluddin, Abdul Ihsan Jamaluddin, usia kami 17 tahun. Adik kami, Aghitsni Rosyidah Latief, 12 tahun, Sarah Haya’ Nadaul Matin, 4 tahun 3 bulan, Yasin Karim Jamaluddin, 2, tahun 10 bulan, Qum Syauqi Ali Hafidzi Jalamuddin, baru beberapa minggu.

Sarah beberapa waktu lalu meninggal. Tapi sekarang kami sudah punya adik lagi. Pas Sarah meninggal, ummi (ibu) sedang hamil. Dua minggu kemudian adik kami, Qum, lahir.

Apakah orangtua dan kakak juga penghafal Quran?
Masih baru kita yang hafiz. Kita pingin jadi contoh, biar memotivasi keluarga. Ibaratnya kita ingin menjadi pendahulu. Kami ingin menjadi contoh bagi keluarga. Harapannya ada yang mau mengikuti.

Awalnya memang belum sepenuhnya. Tapi orangtua mengarahkan. Setelah baca hadits, kita bilang ke orangtua. Keduanya malah menyambut baik dan mengarahkan. Kita kemudian diantar ke Darul Quran. Sempat kaget, ternyata beneran direspons. Akhirnya kita jalani.

Niat awalnya karena orangtua. Seiring berjalannya waktu, niatnya berubah, ingin menghafal Alquran karena Allah.

Kalian kan masih remaja. Punya tokoh kebanggaan?
Bagi kami, idola tentu Nabi Muhammad. Kemudian ada juga yang kita favoritkan. Fatih Safeeragic, hafiz Alquran umur 14 tahun dari Amerika Serikat.

Kenapa mengidolakan Nabi Muhammad SAW?
Bagi kami, Rasulullah merupakan pejuang yang luar biasa dan sampai ketika Rasulullah hendak dipanggil Allah, yang luar biasa beliau masih memikirkan umatnya. Sementara kita umatnya bahkan tidak sempat mengingat beliau. Bagi saya itu yang harus kita renungkan. Kita sebagai umatnya jarang memikirkan beliau.

Selain itu, Nabi Muhammad adalah sosok yang patuh kepada orangtua, ramah, selalu membalas keburukan dengan kebaikan. Kita ingin punya akhlaq seperti Rasulullah.

Mengapa kalian juga menjadikan Fatih sebagai tokoh kebanggaan?
Kalau Fatih, jadi motivasi bagi kita. Bagi kami keren. Anak 14 tahun bisa jadi hafiz. Apalagi bukan di Arab, tapi di Amerika Serikat. Kami berpikir kalau generasi muda Indonesia bisa seperti itu, luar biasa negeri ini.

Sekarang sepertinya sibuk. Apa saja kegiatan kalian sampai begitu sibuk?
Kita banyak berbagi motivasi. Kita keliling-keliling ke mana-mana untuk dakwah. Selain itu juga menulis buku. Buku tentang pemuda ayo bangkit. Cari yang beda, biar bisa bangkit. Sekarang masih dalam proses penulisan.

Ke mana saja kalian berdakwah?
Paling sering Jabodetabek. Pernah juga ke Jawa Tengah. Kalau ke luar negeri, ke Malaysia baru sekali. Akhir tahun kemarin. Yang mengundang Ikatan Keluarga Muslim Indonesia Malaysia dalam rangka halal bi halal bersama Aa Gym.

Bagaimana tanggapan mereka saat kalian di sana?
Alhamdulillah baik, senang bisa datang ke sana. Di sana ada santri bapak saya. Dulu mereka ketemu kami waktu masih kecil. Jadi sudah seperti reuni saja.

(Rumahhufazh/Dream)

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.