Bismillaah Walhamdulillaah Wasshalaatu Wassalaamu ‘Ala Rasulillaah.. Amma Ba’d

Sesungguhnya hidayah adalah anugerah dan keutamaan dari Allah Jalla wa ‘Ala kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.

وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” [Quran Al-Hajj: 54]

وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” [Quran Al-Hadid: 29].

Semuanya berada di bawah kehendak Allah. Dialah sang pemiliki kuasa dan urusan. Siapa yang Allah beri hidayah, tak ada yang mampu menyesatkannya. Dan siapa yang Allah sesatkan, tak ada yang mampu memberinya petunjuk. Sang pemberi petunjuk adalah Allah. Tidak ada sekutu baginya. Manusia, bagaimanapun kedudukan, keutamaan, dan kecerdasannya, dia tidak memiliki hidayah untuk diberikan kepada orang lain. Walaupun orang tersebut orang terdekatnya.

Apabila seorang muslim menyadari hal ini, maka ia akan berusaha memperkuat hubungannya dengan Allah Jalla wa ‘Ala. Kembali dan menghadapkan diri kepada Allah dengan ikhlas saat berdoa dan berharap.

Di antara nama Allah Jalla wa ‘Ala adalah al-Hadi (Maha Memberi Petunjuk). Sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” [Quran Al-Furqon: 31].

Dalam firman-Nya yang lain:

وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” [Quran Al-Hajj: 54].

Dan al-Hadi adalah salah satu dari nama Allah Ta’ala. Nama ini menunjukkan bahwa semua hidayah itu berada di tangan-Nya. Seorang hamba tidak akan mendapatkan hidayah dan selamat dari kesesatan serta teguh di atas jalan hidayah kecuali atas kehendak Allah Jalla wa ‘Ala. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, kalia semua tersesat kecuali yang Aku beri petunjuk. Mintalah hidayah kepada-Ku, akan aku tunjuki kalian.”

Betapapun seseorang itu memiliki semangat dan kedudukan tinggi di sisi manusia, hal ini tidak akan bermanfaat apabila Allah tidak menetapkan hidayah untuknya. Perhatikanlah bagaimana semangatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar supaya pamannya Abu Thalib mendapatkan hidayah.

Sang paman adalah orang yang sangat dekat dengan beliau. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memiliki kedekatan dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Tapi, Allah dengan hikmah-Nya tidak menetapkan hidayah kepada Abu Thalib. Maka kedudukan Abu Thalib di sisi Nabi. Dan kedudukan Nabi di sisi Allah, tidak membuahkan hasil yang Nabi harapkan. Karena hidayah di tangan Allah. Bukan pada manusia.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dan shahih keduanya, dari al-Musayyib bin Hazn radhiallahu ‘anhu:

Ketika Abu Thalib hendak wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menemuinya. Dan di sisi Abu Thalib sudah duduk Abu Jahl dan Abdullah bin Abu Umayyah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(( يَا عَمِّ ؛ قُلْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ )) وفي رواية ((أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ))

“Wahai paman, ucapkanlah laa ilaaha illallaah (tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah). Sebuah kalimat yang akan kujadikan hujjah untukmu di sisi Allah.” Dalam riwayat lain, “Yang kupersaksikan untukmu di sisi Allah.”

وهما يقولان : «بل على ملة عبد المطلب»

Abu Jahl dan Abdullah bin Abu Umayyah menimpali, “Apakah engkau benci dengan agamanya Abdul Muthalib?”

Kemudian Abu Thalib wafat di atas agama Abdul Muthalib. Ia enggan mengucapkan laa ilaaha illallaah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersedih. Kemudian, dengan kedudukan beliau di sisi Allah, beliau mengatakan,

(( أَمَا وَاللهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ )

“Demi Allah, pasti akan kumohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang.”

Kemudian Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat:

{مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ} [التوبة:113]

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” [Quran At-Taubah: 113].

Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala menurunkan ayat tentang Abu Thalib:

{إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ } [القصص:56] .

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” [Quran Al-Qashash: 56].

Allah Rabbul ‘alamin berfirman kepada Nabi-Nya, orang pilihan-Nya, dan kekasih-Nya:

{إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ }

“ Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi.”

Maksudnya, engkau tidak memiliki kekuasaan atas hidayah. Tidak pula mampu memberikannya kepada orang yang engkau cintai. Walaupun kedudukan orang tersebut dekat denganmu. Tahukah Anda bagaimana artinya paman beliau, Abu Thalib, bagi beliau? Dia adalah orang yang melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak berusia 8 tahun sampai 8 tahun masa kenabian beliau. Artinya dari usia Nabi 8 tahun hingga 48 tahun, dijaga oleh Abu Thalib. 40 tahun! Ia selalu menyertai Nabi, melindungi, menlong, menghalangi, dan membela beliau dari orang-orang yang hendak menyakitinya. Ia memiliki kedudukan yang sangat berarti di hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga wajar apabila Nabi sangat menginginkan kalau pamannya mendapatkan hidayah. Akan tetapi hidayah itu di tangan Allah.

Serupa dengan ayat tadi, adalah firman Allah:

{ وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ } [يوسف:103]

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman — walaupun kamu sangat menginginkannya.” [Quran Yusuf: 103].

Kemudian firman-Nya:

{ لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ } [البقرة:272]

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” [Quran Al-Baqarah: 272].

Ya, betapapun hebat dan tingginya kedudukan manusia, dia tetap saja tak kuasa memberikan hidayah kepada siapapun yang dikehendakinya. Karena hidayah di tangan Allah.

Sadarilah betapa kita sangat membutuhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kita sangat membutuhkan hidayah dari-Nya. Hidayah untuk meniti jalan yang lurus. Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan hidayah kecuali hanya Dia.

Karena besarnya dan mendesaknya kebutuhan seseorang kepada hidayah Allah, Dia menjadikan permohonan hidayah ini pada momen utama, yaitu setiap kali shalat di siang dan malam hari. Dalam seitap shalat dan pada setiap rakaat, kita memohon hidayah kepada Allah. Mohon ditunjukkan jalan yang lurus. Permohonan itu terdapat dalam surat al-Fatihah yang merupakan surat paling utama dalam Alquran. Setiap hari kita mengucapkan:

{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7) }

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” [Quran Al-Fatihah: 6-7].

Maka hendaknya kita bersikap menerima dengan penuh ketulusan terhadap apa yang Allah perintahkan dan segala yang Dia larang. Memohon hidayah kepada-Nya dengan menghadirkan hati dalam doa, tulus, ikhlas, dan beramal mengharap pada-Nya.[]

Wallaahu A’lam.

 

rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.