Fathimah Az-Zahra adalah putri keempat dari Muhammad Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan ibunya, Ummahatul Mukminin Khadijah binti Khuwailid.

Para ulama diantaranya Ibnu Hibban, Ibnu Abdil barr, Ibnul Atsir, Ibnu hajar rahimahumullah dan yang lainnya memberi gelar dengan Az Zahra’ yang berarti bercahaya , maknanya adalah karena Fathimah serupa dengan ayahnya sementara ayahnya yaitu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam disebutkan dalam hadits Anas bin Malik adalah orang yang bersinar atau bercahaya.

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَزْهَرَ اللَّوْنِ ” .

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah orang yang bersinar (bercahaya) warnanya” (HR Bukhari : 3547, Muslim : 2330)

Fathimah dikunnyahkan dengan Ummu Abiha (ibu dari ayahnya), karena kesungguhan, kesabaran, dan keteguhan Fathimah dalam mendampingi sang ayah sebagai pengganti tugas-tugas ibunya setelah wafat, sedangkan Khadijah radhiyallahu anha adalah seorang ibu yang paling utama dan istri yang paling mulia. ,

Fathimah adalah anak yang paling mirip dengan ayahnya, Muhammad Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.telah menggambarkan kecintaannya kepada putri beliau, Fathimah tatkala beliau berkhutbah di mimbar:

“Sesungguhnya Fathimah adalan bagian dagingku, maka barangsiapa yang membuatnya marah, berarti telah menjadikan aku marah”

Dan dalam riwayat lain:

“Sesungguhnya, Fathimah adalah bagian dari potongan dagingku, maka barangsiapa yang mendustainya berarti mendustaiku, dan barangsiapa yang mengganggunya, berarti dia mengganggu diriku” (H.R. Bukhari no 2449)

Karena kecintaan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kepada putrinya itu, apabila beliau pulang dari safar, beliau masuk masjid lalu shalat dua rakaat dan mendatangi Fathimah, baru kemudian mendatangi istri-istri beliau.

Telah diceritakan oleh Ummul Mukminin (ibunya orang Mukmin karena sebagai istri Rasul, ed), “Belum pernah aku melihat orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam berbicara melebihi Fathimah, apabila dia masuk menemui Nabi, maka Nabi berdiri untuk menyambutnya dan menciumnya, serta melapangnya tempatnya. Begitu pula sebaliknya perlakukan Fathimah terhadap Nabi” (H.R. Abu Dawud dalam ‘Al-Adab’ no. 5217, At-Tirmidzi dalam ‘Al-Manaqib’ no. 3871, dan Al-Hakim dalam ‘Al-Mustadrak’ III/154, dishahihkan dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Sekalipun demikian melimpahnya kecintaan ini, akan tetap Nabi menjelaskan kepada putriya, dan juga kepada yang lain agar senantiasa beramal dan berbekal taqwa.

Suatu hari beliau berdiri dan berseru:

“Wahai sekalian orang Quraisy, jagalah diri kalian, sesungguhnya aku tidak dapat membantu kalian di sisi Allah sedikitpun, wahai… wahai… wahai… Fathimah binti Muhammad, mintalah kepadaku hartaku yang kamu sukai, namun aku tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah sedikitpun”

dalam riwayat lain:

“Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari neraka , karena sesungguhnya aku tidak kuasa memberikan madharat dan manfaat di sisi Allah” (H.R. Bukhari VI/16 dan Muslim no 206)

Dari Tsauban radhiyallahu anhu berkata:

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam masuk ke rumah Fathimah, sedangkan ketika itu aku bersama beliau. Fathimah mengambil kalung emas dari lehernya, seraya berkata: “Ini adalah pemberian Abu Hasan kepadaku”. Maka beliau bersabda:

“Wahai Fathimah, apakah engkau senang jika orang-orang berkata: ‘inilah Fathimah binti Muhammad, sedangkan di tangannya ada kalung dari neraka ?’ ”

Kemudian beliau memarahi Fathimah dengan keras dan menghardiknya, kemudian beliau keluar tanpa duduk terlebih dahulu. Maka Fathimah mengambil sikap untuk menjual kalungnya, kemudian hasilnya dibelikan seorang budak wanita, setelah itu dia merdekakan. Tatkala hal ini sampai kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, bersabdalah beliau:

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fathimah dari neraka ” (H.R. An-Nasa’i VIII/158 dan Al-Hakim III/152-153)

Maka kedudukan yang telah diraih oleh Fathimah di sisi ayahnya Rasulullah tersebut, tidaklah menghalangi Rasulullah dalam memarahinya, bahkan mengancamnya bahwa sekali-kali Rasulullah tidak dapat menolong Fathimah dari kehendak Allah.

Bahkan beliau juga memberikan ancaman, seandainya dia mencuri, maka akan ditegakkanlah hukum atasnya, yakni hukum potong tangan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang seorang wanita Al-Makhzumiyyah yang mencuri kemudian kaumnya memintakan ampunan agar wanita tersebut bebas melalui Usamah bin Zaid bin Haritsah, orang yang paling dekat dengan beliau.

Beliau pun marah kepda Usamah bin Zaid, karena permintaan tersebut akan mengubah kebijaksanaan pertama dan akan membuka peluang dihilangkannya sanksi, maka Nabi marah kepada Usamah karena Allah, kemudian beliau bersumpah kepada Allah Ta’ala bahwa beliau akan menerapkan hudud (hukum) Allah, sekalipun terhadap orang yang paling beliau cintai, jika dia terjerumus ke dalam suatu kesalahan yang mengharuskan untuk dihukum; agar bisa dijadikan teladan.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Wahai manusia, sesungguhnya sesatnya orang-orang sebelum kalian dikarenakan apabila yang mencuri adalah orang-orang yang mulia kedudukannya, maka dibiarkan, akan tetapi manakala yang mencuri adalah orang-orang lemah, maka mereka menegakkan hukum. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.” (H.R. Bukhari dalam al-Hudud VIII/16 dan Muslim no 1688)

Subhanallah…begitu cintanya Rasulullah kepada Fathimah, dan begitu tegasnya beliau kepadanya.

(Mengenal Shahabiyah Nabi, Pustaka At-Tibyan, Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, cet 2, Januari 2002).

 

rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.