Orang yang berakal, ia pasti akan memilih sesuatu yang baik, bukan sebaliknya. Mengutamakan kebahagiaan yang bersifat abadi dari pada kebahagiaan sejenak. Kalaulah kita merenungi dunia beserta isinya, kita pasti akan sadar dan yakin bahwa dunia dan segala isinya tersebut hanya bersifat sementara. Demikian juga kebahagiaan dan kesedihan di dunia, ia hanya sementara. Berbeda dengan kebahagiaan serta kesedihan di akhirat yang selamanya. Maka alangkah ruginya orang yang hanya mengejar materi, kesenangan semu semata. Sekali lagi yang demikian itu cepat atau lambat akan berakhir.

Orang-orang yang berlomba-lomba mengejar kesenangan dunia seperti halnya orang yang berada dalam sebuah permainan yang melalaikan. Lantas kemudian permainan itu berakhir dan menyisakan kelelahan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am 32)

Maksudnya adalah semua perbuatan yang dikhususkan hanya untuk kehidupan dunia ini seperti main-main dan senda gurau, yaitu tidak bermanfaat. Dengan penjelasan ini sebagaimana dikatakan oleh banyak ulama, amal-amal soleh yang dilakukan di dunia ini tidak termasuk (main-main dan senda gurau), seperti ibadah dan perbuatan yang dilakukan untuk kebutuhan pokok dalam kehidupan.

Maka oleh karena kesenangan-kesenangan dunia itu hanya sebentar, semestinya kita tidak terpedaya dan lupa akan urusan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun 9)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini, “Allah memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk banyak mengingat-Nya dan melarang mereka sibuk dengan harta serta anak-anak. Allah juga memberitakan kepada mereka bahwa barang siapa yang terlalaikan oleh kesenangan dunia dan segala perhiasannya dari tujuan utama penciptaannya yaitu mentaati Allah, maka dia termasuk orang-orang yang merugi. Yang merugikan diri mereka sendiri beserta keluarga mereka pada hari kiamat.”

Sebagian orang mengira bahwa dengan beriman dia telah beruntung dan terhindar dari kerugian, meskipun melalaikan kewajiban. Anggapan ini keliru karena telah diketahui bahwa setiap manusia berada dalam kerugian, sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat Al-‘Ashr. Allah bersumpah dengan menggunakan waktu yaitu malam dan siang yang merupakan saat amal perbuatan seluruh hamba-Nya lakukan bahwa semua manusia itu merugi dengan kerugian yang bertingkat, kecuali orang-orang yang memiliki 4 sifat:

  1. Beriman terhadap perkara yang diperintahkan oleh Allah. Dan iman itu tidak akan ada tanpa ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari iman tidak akan sempurna iman tanpa ilmu.
  2. Beramal soleh, ini mencakup seluruh perbuatan baik yang lahir maupun yang batin yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak sesama hamba.
  3. Nasehat-menasehati dalam kebenaran (iman dan amal soleh). Maksudnya mereka saling menasehati, saling menganjurkan serta memotivasi untuk melaksanakannya.
  4. Nasehat-menasehati supaya tetap sabar dalam melaksanakan ketaatan, sabar dalam meninggalkna kemaksiatan, serta sabar dalam menjalani takdir Allah yang jelek.

Dengan dua sifat yang pertama seseorang bisa menyempurnakan dirinya, dan dengan dua sifat yang berikutnya dia bisa menyempurnakan orang lain.

Banyak orang yang bersedih dan merasa rugi saat gagal meraih cita-cita dunia, namun jangan lupa di sana ada kerugian yang berakibat sakit yang terperikan yaitu kerugian akhirat. Kerugian yang diakibatkan oleh kekufuran, kesyirikan, dan berbagai perbuatan dosa lainnya. Inilah kerugian hakiki.

Semoga Allah menyelamatkan kita dari tipu daya dunia dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang meraih keberuntungan hakiki, dan selamat dari kerugian yang sebenarnya. Aamiin.[]

 

rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.