Segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada sayyidil anam, Nabiyyina Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Beberapa hari ke belakang, hati-hati kaum muslimin kembali dibuat terhenyak sekaligus jengkel oleh perilaku tak terpuji yang dipertontonkan oleh orang-orang yang tak segan memperolok-olok ajaran Islam, kian hari musuh-musuh Islam kian berani menampakkan kebencian mereka. Itu yang diketahui, sementara diluar sana masih banyak bertebaran baik dari mereka orang-orang kafir atau yang mengaku muslim sekalipun.

Perbuatan mengolok-olok ajaran Islam tidak bisa dianggap remeh, perbuatan tersebut tidaklah dilakukan kecuali oleh orang-orang yang di hatinya terdapat benih-benih kemunafikan dan kekufuran, perbuatan tak terpuji tersebut terhitung dosa besar yang berkonsekuensi menggiring pelakunya keluar dari Islam jika pelakunya adalah seorang yang mengaku muslim.

Allah telah menyebutkan di antara sifat orang kafir adalah menghina agama Allah ‘Azza wa Jalla, Rasul-Nya, dan ayat-ayat-Nya. Allah telah menjelaskan hal itu di beberapa tempat dalam Kitab-Nya.

Allah menceritakan tentang istihya’ (penghinaan, ejekan, dan olok-olokan) mereka terhadap ayat-ayat-Nya:

وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُواً

Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokkan.” (QS. Al Kahfi: 56)

وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ * يَسْمَعُ آيَاتِ اللَّهِ تُتْلَى عَلَيْهِ ثُمَّ يُصِرُّ مُسْتَكْبِراً كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ * وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آيَاتِنَا شَيْئاً اتَّخَذَهَا هُزُواً أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Kecelakaan besar bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa. Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh adzab yang menghinakan.” (QS. Al Jaatsiyah: 7-9)

Allah mengabarkan tentang penghinaan orang kafir terhadap Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَإِذَا رَآكَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُواً أَهَذَا الَّذِي يَذْكُرُ آلِهَتَكُمْ

Dan apabila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan): “Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu?” (QS. Al Anbiya’: 36)

وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُواً أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولاً

Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): “Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?” (QS. Al furqaan: 41)

Ayat-ayat yang membicarakan hal itu sangat banyak. Sesungguhnya menghina dien termasuk kekufuran yang banyak dilakukan orang-orang terdahulu. Kekufuran mereka dengan penolakan dan mendustakan atau dengan kesombongan dan keengganan, yang kemudian ditambah dengan penghinaan terhadap para rasul dan risalah mereka. Semua itu Allah ceritakan berkaitan dengan seluruh umat yang kafir.

Syaikh Muhammad al-Tamimi rahimahullah memasukkan hal ini sebagai pembatal Islam yang ke enam dalam risalahnya Nawaqidl al Islam (pembatal-pembatal keislaman). Dan ini merupakan bagian dari pembatal Islam terbesar.

Istihza’ (penghinaan, mengejek, dan mengolok-olok terhadap dien) merupakan sifat orang kafir. Banyak orang yang mengaku Islam menjadi murtad karenanya. Buktinya, banyak para perawi yang mengabadikan kisah-kisah istihza’ yang terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnu Jarir dan lainnya meriwayatkan dengan sanad yang bagus, dari Abdullah bin Umar radliyallah ‘anhuma: “Pada perang Tabuk, ada seorang laki-laki berkata dalam sebuah Majelis: ‘kami tidak pernah melihat orang seperti para qurra’ (penghafal Al-Qur’an) kita, mereka adalah orang-orang yang buncit perutnya (karena banyak makan), paling dusta lisannya dan paling pengecut saat berperang.” Maksudnya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  dan para sahabatnya penghafal Al-Qur’an.

Ucapan lelaki tadi disergah dengan keras oleh ‘Auf bin Malik. “Kamu dusta, kamu ini pasti seorang munafik. Aku benar-benar akan memberitahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Lalu ‘Auf datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberitahukan kapadanya, ternyata Al-Qur’an telah mendahuluinya.

Lalu lelaki tadi datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau berangkat menaiki ontanya. Ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami hanya bermain-main dan berseloroh saja untuk mengusir kesenggangan saat menempuh perjalanan yang panjang dan memayahkan.”

Ibnu Umar radliyallah ‘anhuma mengatakan, “seakan-akan aku melihat lelaki itu berpegangan pada tali pengikat pelana onta Rasulullah, sementara batu mengenai kedua kakinya dan membuatnya berdarah. Ia berkata, “Kami cuma berseloroh dan bersendau gurau saja.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepadanya, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” Beliau mengucapkan perkataan itu tanpa memalingkan wajah kepadanya, dan tidak pula menambah ucapan lain atasnya.” (Ash-Sharimul Maslul, Ibnu Taimiyyah, hlm. 17, 512, 546. Dinukil dari Fatwa mati buat penghujat, Abu Bashir, hlm. 28)

Berkaitan dengan kisah tersebut, turun tiga ayat berikut ini;

يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ * وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, sungguh kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.”  (QS. Al Taubah: 64-66)

Beberapa orang munafikin tersebut, sebelumnya berstatus sebagai orang beriman, seperti yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan, “sungguh kamu kafir sesudah beriman.” Mereka itu mukmin secara dhahir dan batin sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah, tapi iman mereka lemah sehingga mereka melakukan istihya’.

Dalam kisah ini, pelaku kekufuran menjadi kafir tidak disyaratkan tahu bahwa perbuatannya adakah sebuah kekufuran. Tapi cukup dengan dia tahu bahwa perbuatan tersebut diharamkan. Mereka, para pencela, tidak mengetahui bahwa perbuatannya ini sebuah kekufuran, tapi mereka mengira perbuatannya tersebut bagian dosa yang tidak mengeluarkan dari iman (tidak memurtadkan), dan Allah tidak menerima udzur dari mereka itu.

Dalam kisah di atas juga mengandung faidah bahwa teman dalam kekufuran, ridla padanya, dan berakrab ria dengan orang yang mengucapkan kalimat kufur yang menunjukkan persetujuannya, seluruhnya kafir. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat itu telah menghukumi kafir terhadap mereka yang berada dalam satu rombongan, tanpa mengecualikan salah seorangpun. Padahal, yang berkata hanya salah seorang mereka, dan lainnya hanya mendengarkan.

Sedangkan kelompok yang Allah maafkan, dalam salah satu pendapat, adalah orang yang mengingkari mereka terhadap perkataan-perkataan kufur. Dan pendapat lain menyebutkan, bahwa kelompok yang dimaafkan adalah mereka yang bertaubat, lalu Allah memaafkan kesalahan mereka. Sedangkan kelompok yang kekeh dengan kekufurannya dan berlaku nifaq, mereka itulah yang diadzab.

(bersambung…)

 

rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.