Segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada sayyidil anam, Nabiyyina Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Sesungguhnya mentauhidkan Allah adalah perkara besar. Karena tauhidlah Allah mengutus para rasul, menurunkan kitab, dan mewujudkan kebahagiaan agama dan dunia, di alam ini dan di akhirat kelak. Karena betapa agungnya kedudukan tauhid, para nabi ‘alaihimussalam memberi porsi perhatian besar dalam dakwah mereka. Mereka mengajarkan manusia bagaimana mengagungkan Allah. Mengagungkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Mengesakan-Nya dalam beribadah. Ibadah batin maupun ibadah zahir.

Para nabi juga memperingatkan akan lawan dari tauhid, yaitu syirik. Mereka mengingatkan jangan sampai manusia memperuntukkan ibadah kepada Allah dan juga kepada selain Allah. Seperti berdoa kepada Allah, tapi berdoa juga kepada selain Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. [Quran Al-Anbiya: 25].

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik pendidik dan suri teladan bagi semua manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan perhatian sempurna terhadap tumbuh kembang anak-anak. Beliau menanamkan tauhid di jiwa anak-anak. Karena tauhid merupakan poin penting dalam pendidikan anak-anak.

Terbukti dari banyaknya wasiat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini. Seperti nasihat beliau kepada Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma yang tatkala itu masih kecil. Saat itu ia belum menginjak usia baligh. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ،

“Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”

Cara terbaik untuk menanamkan tauhid adalah dengan mengagungkan Allah Ta’ala di dalam hati. Sejak dini diajarkan bahwa Allah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia. Tanamkan akidah ini di jiwa anak-anak. Dan sebaliknya, ajarkan juga tentang buruk dan rusaknya lawan dari tauhid, yaitu syirik. Seperti berdoa kepada selain Allah. Mengusap-usap nisan kuburan. Jahatnya sihir dan dukun. Bahwa tukang sihir dan dukun adalah pendusta dan sesat.

Selayaknya kita bacakan firman Allah ini kepada mereka:

وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

“Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.” [Quran Tha-ha: 69].

Dan juga kita ingatkan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ؛ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً”

“Barangsiapa mendatangi peramal, lalu ia bertanya tentang sesuatu padanya; maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim).

Di antara cara untuk menumbuhkan rasa pengagungan terhadap tauhid pada jiwa anak adalah menjelaskan kepada mereka betapa miskin dan butuhnya para makhluk kepada kasih sayang Allah Ta’ala. Menjelaskan bahwa semua makhluk butuh akan Allah. Allah Maha Kaya, tak butuh siapapun. Dan Dia Maha Kaya.

Cara lainnya yang dapat membantu menanamkan tauhid di jiwa anak-anak adalah mengaitkan perubahan alam yang mampu dijangkau panca indera ini dengan kebesaran Allah. Seperti terjadi gerhana matahari dan bulan. Berhembusnya angin kencang. Dan hujan yang lebat. Semua atas kuasa Allah Ta’ala.

Termasuk metode menanamkan nilai-nilai tauhid di jiwa anak adalah menumbuhkan rasa cinta kepada Allah Ta’ala di hati anak-anak. Abu Darda radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Tanamkan kecintaan kepada Allah di hati manusia.”

Hal ini selayaknya mendapat perhatian. Khususnya penanaman sejak dini di kalangan anak-anak. Sehingga anak-anak tumbuh dengan kebiasaan demikian. Dan anak itu tumbuh dengan kebiasaan kedua orang tuanya.

Metode lainnya adalah dengan menyebut-nyebut nikmat Allah di hadapan sang anak. Apabila si anak mengenakan pakaian baru, dia bergembira dan senang, ajarilah si anak untuk mengucapkan hamdalah. Apabila ia makan dan minum, ajari mengucapkan basmalah dan mengakhirinya dengan hamdalah. Beri tahu dia bahwasanya kalau bukan karena karunia Allah, tidak akan ada makan dan minum ini.

Cara yang lain, yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan pengagungan dan cinta kepada Allah adalah dengan sering memperdengarkannya Alquran serta membacakan tafsirnya dengan cara yang mudah. Demikian juga memperdengarkannya hadits beserta sedikit penjelasannya. Dan juga mengajarinya dzikir pagi dan petang serta doa-doa.

Hal lainnya yang perlu kita ajarkan kepada anak adalah tentang pengawasan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala senantiasa melihat hamba-hamba-Nya. Karena itu kita tanamkan kepada anak-anak kita yang hendak ujian sekolah untuk tidak berbuat curang. Karena Alllah Maha Melihat. Allah Maha Mengetahui. Dan Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat curang.

Selanjutnya jauhkan anak-anak dari teman-teman yang buruk. Karena teman itu akan menarik dan memperngaruhi. Jauhkan mereka dari teman yang mengajak kepada akhlak yang tercela atau pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad, dari Abu Hurairah).

Terakhir dan yang terpenting untuk jangan lupa mendoakan anak-anak kita saat shalat. Saat kita bersendirian di tengah malam. Saat waktu-waktu mustajab. Doakan mereka dengan doa yang baik. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa doa orang tua adalah doa yang mustajab. Selama tidak mendoakan keburukan. Sabda beliau:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ودَعْوَةُ الْوَالِدِ على ولد

“Ada tiga doa yang tidak diragukan merupakan doa mustajab: doa orang yang terzhalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR. at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan selainnya).[] Wallaahu Ta’aala A’lam

 

rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.