Segala puji milik Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabiyyina Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya serta pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)

Ketika kita melihat Lebih jeli terhadap ayat ini, seolah-olah Allah mengatakan bahwa orang-orang yang tidak bersaudara terhadap orang-orang yang beriman, adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pertanyaannya, ukhuwah yang bagaimana yang diharapkan oleh Islam? Ukhuwah yang bagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam? Ukhuwah yang bagaimana yang dicontohkan oleh para Sahabat Radhiallahu ‘anhum?

Al Imam Al Qurthubi Rahimahullah mengomentari ayat di atas bahwasannya, “Ukhuwah karena agama, karena dasar keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu jauh lebih kuat dibandingkan dengan persaudaraan karena nasab. Sebab, persaudaraan karena nasab atau darah akan terputus dengan perbedaan agama. Akan tetapi ukhuwah karena agama tidak akan pernah terputus meskipun hubungan nasab atau darah itu terputus.”

Dalam hal ini, banyak dalil yang menyebutkannya, di antaranya adalah dengan satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong di antara mereka seperti perumpamaan satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan pula dengan demam dan tidak bisa tidur.” (HR Muslim)

Ketika tangan kiri kita terluka, tergores oleh pisau; mengalir darah dengan derasnya, kita dapat melihat apa yang dilakukan oleh tangan kanan atau apa yang dikerjakan oleh tangan kanan kita. Tangan kanan kita akan berusaha sedemikian rupa untuk menutup luka di tangan kiri supaya darah itu tidak terus mengalir dengan deras.

Kemudian apa yang dilakukan oleh kaki kita? Kaki kita akan berusaha untuk mencari obat agar luka yang dialami oleh tangan kiri tersebut tidak menjadi parah. Kemudian Apa yang dilakukan oleh kedua mata kita? mata kita juga akan mencari obat. Tidak hanya itu kedua mata kita juga terkadang sampai ikut menangis karena menahan atau ikut merasakan pedih yang dialami oleh tangan kiri kita. Seperti itulah gambaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tentang persaudaraan orang-orang yang beriman.

Ketika ada saudara kita yang sedang membutuhkan bantuan, kita hendaknya membantu mereka dengan apa yang bisa kita miliki. ketika ada tetangga kita yang sedang tertimpa musibah, ujian dari Allah subhanahu wa ta’ala maka kita berusaha untuk mencoba meringankan beban saudara kita. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan dalam hadits yang lain.

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan yang lainnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ لَا يخذلهُ ولا يحقره وَلَا يُسْلِمُهُ

“Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, dia tidak membiarkannya (di dalam kesusahan), tidak merendahkannya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh)”. (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menggambarkan suasana pada hari kiamat, bahwa ketika orang-orang ahli neraka sudah dimasukkan ke dalam neraka, ahli surga sudah masuk ke dalam surga, penduduk surga saling mencari saudaranya. Mereka meminta kepada Allah: ya Allah, saudara kami mana ya Allah? Ya Allah saudara kami di mana? Ya Allah mereka dulu shalat berjamaah bersama kami. Ya Allah mereka dulu berpuasa bersama kami. Ya Allah mereka dulu juga berhaji bersama kami. Ya Allah apakah mereka engkau masukkan ke dalam neraka ya Allah? Kemudian Allah berfirman, “Pergilah kamu menuju neraka kemudian keluarkan dari mereka siapa di antara mereka yang engkau kenal.”

Dalam konteks itulah, Imam Ibnu Jauzi Rahimahullah memberikan pesan kepada sahabat-sahabatnya, “Bila kalian masuk ke dalam surga, kemudian kalian tidak mendapati aku berada di antara kalian di dalamnya, maka tanyakan kepada Allah perihal aku.”

Lebih besar daripada manfaat di dunia, persaudaraan akan membawa keajaiban di akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam salah satu hadits menyebutkan bahwa seseorang akan masuk surga bersama orang yang dicintainya. Ini adalah jawaban beliau ketika ditanya oleh seorang Arab badui yang menyatakan tidak memiliki bekal untuk akhirat kecuali mencintai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Telah menjadi fitrah manusia untuk mencari sahabat atau saudara dalam mengarungi kehidupan ini. Orang yang baik bersahabat dengan yang baik dan orang yang buruk bersahabat dengan yang buruk pula. Namun persaudaraan yang haqiqi hanya dimiliki kaum muslimin, yaitu persaudaraan yang dilandasi keimanan atau sering disebut ukhuwah islamiah atau ukhuwah imaniyah. Persaudaraan yang lainnya akan sirna, bersamaan sirnanya keuntungan yang dicari. Bahkan, di akhirat kelak mereka akan menjadi musuh satu dengan yang lainnya. Allah berfirman,

الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS Az Zukhruf: 67)

Syaikh As Sa’di Rahimahullah berkata dalam tafsirnya: “Sesungguhnya teman-teman dekat pada hari itu, yakni hari kiamat, yang bersahabat diatas kekufuran, kedustaan dan kemaksiatan kepada Allah maka sebagian dari mereka menjadi musuh sebagian yang lain. (Hal ini tidak lain) karena kasih sayang dan kecintaan diantara mereka di dunia bukan karena Allah maka di akhirat berubah menjadi permusuhan.  Kecuali orang-orang yang bertaqwa (yang menjaga dirinya)dari kesyirikan dan kemaksiatan, maka kecintaan diantara mereka kekal dan bersambung (sampai akhirat) bersamaan dengan kekalnya kecintaan mereka karenaNya.“

Maka cintailah para ulama, orang-orang beriman dan saleh agar di hari kiamat kita dikumpulkan bersama mereka. Sebaliknya, jangan berikan cinta dan kekaguman kepada orang-orang fasiq semisal bintang film atau pemain bola, atau orang kafir, khawatir nantinya kita akan dikumpulkan bersama mereka..Wal’iyadzu billah[]

 

rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.