Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan musibah dan Dia-lah pula yang Maha Bijaksana, yang memberikan jalan keluar dari musibah tersebut.

Dalam Alquran Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan  itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al A’raaf: 96)

Bahwa jika suatu negeri ingin diberikan keberkahan, hujannya menumbuhkan tanaman dan menyuburkan tanah, kampungnya menjadi tempat tinggal yang nyaman, aman dan tentram, jalan keluarnya adalah taqwa. Mengerjakan perintah Allah yang selama ini ditinggalkan dan menjauhi larangan Allah yang selama ini dikerjakan.

Maka kewajiban kita ketika musibah datang adalah dengan meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, tunduk kepada-Nya dan meminta keselamatan kepada-Nya, serta memperbanyak dzikr dan istighfar, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَاكَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَاكَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun (QS. Al Anfal: 33)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

فَلَمَّا نَسُوا مَاذُكِّرُوا بِهِ أَنجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بِئْسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ {165} فَلَمَّا عَتَوْا عَن مَّانُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ {166}

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab, “Agar Kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertakwa—Maka ketika mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS. Al A’raaf: 164-165)

Jika kita ingin diselamatkan Allah ketika adzab datang, lakukanlah Amr Ma’ruf – Nahy Mungkar, perhatikanlah ayat tersebut: “Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras.

Maka ketika musibah datang menimpa, sikap dan pandangan yang selayaknya dimiliki seorang muslim adalah:

  •  Musibah yang menimpanya adalah karena dosa-dosanya dan Allah memaafkan sebagian besarnya.
  • Kewajiban kita ketika terjadi bencana ini adalah segera beristighfar dan bertaubat kepada Allah.

Sungguh sangat disayangkan sebagian orang menghadapi musibah ini dengan perbuatan-perbuatan yang sebenarnya mendatangkan musibah baru, seperti syirik (baik syirik dalam rububiyyah maupun dalam uluhiyyah) dan maksiat.

Contoh syirik dalam rububiyyah adalah seperti yang kita saksikan ada sebagian orang yang sudah terkena musibah, masih saja mengira karena penguasa laut pantai ini atau itu sedang marah, padahal penguasa pantai ini atau itu dan alam semesta secara keseluruhan adalah Allah, Maha Suci Allah dari keyakinan yang rusak ini. Akhirnya mereka membuat sesaji dan kurban yang merupakan syirik syirik dalam uluhiyyah.

  • Dalam musibah terdapat peringatan bagi kita agar waspada terhadap perbuatan maksiat. Oleh karena itu, seharusnya musibah itu membekas di hati seorang muslim, menjadikan kita ingat kepada Allah, menghidupkan hati kita, dan menyadarkan kita terhadap kelalaian.
  • Hendaknya diingat bahwa musibah bagi seorang muslim itu menghapuskan dosa-dosanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kesedihan dan kegelisahan bahkan duri yang mengenainya, kecuali Allah akan menghapuskan dengan itu dosa-dosanya.” (HR. Bukhari)

  • Perlu diketahui, bahwa pada bencana tersebut terdapat bukti yang jelas akan keagungan Allah dan lemahnya orang-orang yang menyombongkan diri.

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي اْلأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً

Adapun kaum ‘Aad, mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? (QS. Fushshilat: 15)

  • Bagaimana tidak terdapat bukti yang jelas akan kekuasaan Allah dan lemahnya orang yang menyombongkan diri, hanya ditimpakan musibah ringan saja manusia sudah merasakan beratnya menanggung musibah itu. Ini baru musibah biasa, maka bagaimanakah bila musibah hari kiamat?
  • Telah berlalu ummat-ummat terdahulu, ketika kekufuran dan kemaksiatan merajalela, Allah mengazab mereka,

فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنبِهِ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا وَمَاكَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Maka masing-masing Kami siksa disebabkan dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa  suara  keras  yang  mengguntur (halilintar),  dan  di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada  yang  Kami  tenggelamkan,  dan  Allah  sekali-kali   tidak  hendak menganiaya  mereka,  akan  tetapi  merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Al ‘Ankabut: 40)

Akhirnya, semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mengambil pelajaran dari apa yang telah menimpa orang lain dan bukan orang yang menjadi pelajaran bagi orang lain.[]

Wallaahu Ta’ala A’lam.

rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.