Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ يُبْغِضُنَا ـ أَهْلَ الْبَيْتِ ـ رَجُلٌ إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. tidak ada seorang pun yang membenci kami, keluarga Nabi, melainkan pasti Allah masukkan ke dalam neraka.” [Shahih. HR. al-Hakim dan Ibnu Hibban]

Penjelasan ringkas

Mencintai keluarga Nabi adalah bagian dari agama dan memuliakan mereka adalah bagian dari akidah, selama tidak dibarengi sikap ekstrim dan menempatkan mereka melebihi kedudukan mereka yang sebenarnya.

Abu Bakr al-Ajurri al-Baghdadi mengatakan,

وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ مَحَبَّةُ أَهْلِ بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَنُو هَاشِمٍ , عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ , وَفَاطِمَةُ وَوَلَدُهَا وَذُرِّيَّتُهَا , وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ وَأَوْلَادُهُمَا وَذُرِّيَّتُهَا , وَجَعْفَرٌ الطَّيَّارُ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ , وَحَمْزَةُ وَوَلَدُهُ , وَالْعَبَّاسُ وَوَلَدُهُ وَذُرِّيَّتُهُ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

“Setiap mukmin dan mukminah wajib mencintai ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah Bani Hasyim, ‘Ali bin Abi Thalib, termasuk anak dan keturunannya; Fathimah, termasuk anak dan keturunannya; al-Hasan dan al-Husain, termasuk anak dan keturunan keduanya; Ja’far ath-Thayyar, termasuk anak dan keturunannya; Hamzah, termasuk anak dan keturunannya; al-‘Abbas, termasuk anak dan keturunannya. Semoga Allah meridhai mereka.” [Asy-Syari’ah 5/2276].

Kecintaan kepada ahli bait haruslah sesuai dengan batasan-batasan yang ditetapkan syari’at.

‘Ali bin al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, salah seorang ulama ahli bait pernah berkata,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَحِبُّونَا حُبَّ الإِسْلامِ، فَمَا بَرِحَ بِنَا حُبُّكُمْ حَتَّى صَارَ عَلَيْنَا عَارًا ”

“Wahai sekalian manusia, cintailah kami dengan kecintaan Islam. Kecintaan kalian kepada kami senantiasa ada hingga kemudian malah menjadi aib bagi kami” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqaat, 5/110].

Al-Hasan bin al-Hasan pernah berkata kepada seorang yang berbuat ghuluw kepada ahli bait,

وَيْحَكَ، أَحِبُّونَا لِلَّهِ، فَإِنْ أَطَعْنَا اللَّهَ فَأَحِبُّونَا، وَإِنْ عَصَيْنَا اللَّهَ فَأَبْغِضَونَا، وَلَوْ كَانَ اللَّهُ نَافِعًا أَحَدًا بِقَرَابَةٍ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِغَيْرِ طَاعَةٍ لَنَفَعَ بِذَلِكَ أَبَاهُ وَأُمَّهُ، قُولُوا فِينَا الْحَقَّ، فَإِنَّهُ أَبْلَغُ فِيمَا تُرِيدُونَ، وَنَحْنُ نَرْضَى مِنْكُمْ

“Celaka anda. Cintailah kami karena Allah. Jika kami menaati Allah, maka cintailah kami. Jika kami mendurhakai-Nya, maka bencilah kami. Jika sekiranya Allah memberikan manfaat kepada seseorang tanpa dia melakukan ketaatan sama sekali dikarenakan kekerabatannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentulah kekerabatan itu bermanfaat bagi ayah dan ibu beliau. Katakanlah perkataan yang benar mengenai kami, karena sesungguhnya hal itu lebih sesuai dengan yang kalian inginkan dan kamipun akan meridhai kalian akan hal itu.”[Syarh Ushul I’tiqad Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah 8/1483].

Oleh karena itu, kecintaan kepada ahli bait tidak serta-merta menjadikan kita mengagung-agungkan ahli bait di luar koridor yang dibenarkan syari’at, atau mengkultuskan meski mereka menyelisihi ajaran syari’at.

Lebih utama dari mereka, adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau merupakan pribadi yang paling jauh dari sifat gemar dipuji, apalagi diagung-agungkan dan dikultuskan.

Dari Mutharrif rahimahullah, ia berkata,

قَالَ أَبِي: ” انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا: أَنْتَ سَيِّدُنَا، فَقَالَ: السَّيِّدُ اللَّهُ، قُلْنَا: وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا، فَقَالَ: قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ، وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ

“Ayahku telah berkata, “Aku pernah pergi menghadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam rombongan utusan Bani ‘Amir. Kami berkata, “Engkau adalah sayyid kami”. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “As Sayyid itu hanyalah Allah”. Kami berkata, “Kami hanyalah ingin mengutamakan dan mengagungkan orang yang memang punya keutamaan”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah dengan ucapan kalian seperti biasa atau sebagian ucapanmu itu. Namun janganlah sampai kalian jadikan syaithan sebagai penolongnya” [Shahih. HR. Abu Dawud].

Dari Anas radhiallahu ‘anhu, dia berkata,

مَا كَانَ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ رُؤْيَةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا إِلَيْهِ، لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ

“Tidak ada seorang pun yang lebih mereka (para shahabat) cintai saat melihatnya daripada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Namun jika melihat beliau, mereka tidak pernah berdiri karena tahu kebencian beliau atas hal itu” [Shahih. HR. Bukhari dalam Adab al-Mufrad].

Wallaahu A’lam.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.