Allah ta’ala berfirman,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ. إِلَٰهِ النَّاسِ. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” [an-Naas: 1-6].

Beberapa faidah terkait ayat di atas:

Isti’adzah berarti meminta perlindungan, penjagaan, dan keamanan. Isti’adzah sebagaimana yang disampaikan Ibnu Katsir rahimahullah adalah,

الاسْتِعَاذَةُ هيَ الالْتِجَاءُ إلى اللهِ والالْتِصَاقُ بِجَنَابِهِ منْ شَرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ

“Isti’adzah adalah mencari perlindungan kepada Allah, bergantung pada-Nya dari keburukan setiap hal yang mendatangkan keburukan.” [Tafsir Ibnu Katsir].

Serupa dengan itu, perkataan Ibnu al-Qayyim rahimahullah,

“اعلم أن لفظ”عاذ “وما تصرف منها يدل على التحرز والتحصن والنجاة, وحقيقة معناها: الهروب من شيء تخافه إلى من يعصمك

“Ketahuilah, kata ‘عاذ’ (meminta perlindungan) dan turunannya menunjukkan penjagaan, perlindungan, dan keselamatan. Arti sebenarnya adalah lari dari sesuatu yang anda takuti menuju seorang yang mampu melindungi anda darinya.” [Badai’ al-Fawaid].

Beliau rahimahullah juga mengatakan,

ومعنى أستعيذ بالله: أمتنع به وأعتصم به وألجأ إليه

“Arti ucapan ‘asta’idz billah’ adalah saya memohon pembelaan, penjagaan, dan perlindungan, kepada Allah.”

Pada ayat di atas, Allah memerintahkan hamba untuk beristi’adzah (meminta perlindungan) kepada-Nya dari kejahatan setan. Hal ini menunjukkan bahwa isti’adzah adalah ibadah sehingga hanya ditujukan pada Allah.

Isti’adzah diperuntukkan kepada Allah semata dalam kondisi seperti yang dialami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdo’a dengan redaksi, ‘أعوذ بوجهك’ (Saya berlindung dengan Wajah-Mu); ‘أعوذ بكلمات الله التامات’ (Saya berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna); ‘أعوذ برضاك من سخطك’ (Saya berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu); atau redaksi yang semisal. Hal ini telah menjadi ketetapan alim-ulama.

Diperbolehkan beristi’adzah dengan Nama dan Sifat Allah , karena keduanya bukanlah makhluk.

Ibnu Taimiyah mengatakan,

إنما يستعاذ بالخالق تعالى وأسمائه وصفاته ولهذا احتج السلف كأحمد وغيره على أن كلام الله غير مخلوق فيما احتجوا به بقول النبي صلى الله عليه وسلم (أعوذ بكلمات الله التامات ). قالوا: فقد استعاذ بها ولا يستعاذ بمخلوق

“Isti’adzah dipanjatkan hanya kepada al-Khaliq, dengan menggunakan Nama dan Sifat-Nya. Ulama salaf seperti ahmad dan selainnya berhujjah bahwa kalamullah bukanlah makhluk dengan menggunakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan redaksi ‘أعوذ بكلمات الله التامات’. Mereka mengatakan, ‘Nabi beristi’adzah dengan kalimat Allah dan tidaklah beliau beristi’adzah dengan makhluk.” [al-Fatawa].

Bolehkah beristi’adzah kepada makhluk?

Ulama memiliki perbedaan pendapat dalam permasalahan ini.

Beberapa ulama berpendapat isti’adzah hanya boleh ditujukan kepada Allah, sehingga tidak ada istilah beristi’adzah kepada makhluk meski dalam perkara yang mampu dilakukannya. Alasannya, ketika beristi’adzah terdapat kecondongan dan kebergantungan hati pada pihak yang dimintai perlindungan, ibadah hati yang hanya boleh ditujukan pada allah semata.

Ulama lain memiliki pandangan yang berbeda. Mereka berpendapat bahwa terdapat dalil-dalil yang menunjukkan bahwa diperbolehkannya isti’adzah dengan makhluk dalam perkara yang memang mampu dilakukan. Isti’adzah sebenarnya adalah meminta agar suatu keburukan dihalangi, mencari perlindungan, di mana seseorang meminta penjagaan dari keburukan yang bisa menimpanya. Jika demikian, makhluk pun bisa memberikan perlindungan sebatas kemampuannya.

Oleh karenanya, ulama yang memegang pendapat terakhir berpandangan isti’adzah kepada selain Allah merupakan syirik akbar jika makhluk tersebut tidak memiliki kemampuan untuk melindungi; atau perkara yang dikhawatirkan dan dimintakan perlindungan merupakan perkara yang menjadi otoritas Allah semata (seperti meminta perlindungan dari gangguan setan-pen). [Syarh Kitab at-Tauhid hlm. 193].

Dalam isti’adzah terdapat amal zhahir dan amal batin. Amal zhahir berupa meminta pertolongan dan perlindungan, yang bisa membentengi dan menyelamatkannya dari suatu keburukan. Dan dalam isti’adzah juga terdapat amal batin (amalan hati) berupa kebergantungan, ketenteraman, rasa butuh yang sangat, keberlindungan kepada pihak yang dimintai perlindungan, dan memasrahkan urusan keselamatan diri kepadanya.

Isti’adzah yang mengumpulkan dua amal yang disebutkan tadi, itulah isti’adzah yang hanya boleh diperuntukkan kepada Allah. Apabila seorang beristi’adzah dengan sekadar melakukan amal zhahir, yaitu sekadar mencari penjagaan dan tempat berlindung, maka itu boleh dimintakan pada makhluk. Dan dalil-dalil yang membolehkan beristi’adzah kepada makhluk dibawa kepada pengertian ini, yaitu dalil-dalil tersebut membolehkan isti’adzah yang sekadar mencakup amal zhahir.[]

Wallaahu A’lam.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.