Pihak yang Menerima Zakat Fitri

Pihak yang menerima zakat fitri telah ditentukan berdasarkan hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma sebelumnya, di mana nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menyatakan bahwa zakat fitri berfungsi untuk memberi makan kepada kaum miskin. Hadis ini merupakan penegasan bahwa orang yang berhak menerima zakat fitri adalah golongan fakir dan miskin.

Adapun 6 golongan penerima zakat sebagaimana yang tercantum dalam surat at-Taubah ayat 60 tidaklah tercakup dalam golongan yang berhak menerima zakat fitri. Meski hal ini bertentangan dengan pendapat mayoritas ulama, namun pendapat inilah yang bersesuaian dengan dalil-dalil yang ada.

Ibnu al-Qayim rahimahullah mengatakan, “Tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam pelaksanaan zakat fitri) adalah menyerahkan zakat fitri hanya kepada orang-orang miskin dan tidak membaginya kepada setiap golongan (yang tertera dalam firman Allah di surat at-Taubah ayat 60).

Lokasi Penunaian Zakat Fitri

Zakat fitri dianjurkan untuk ditunaikan di tempat wajib zakat berada ketika hari raya. Namun, bagi mereka yang ingin menunaikan zakat fitri di luar domisili wajib zakat diperbolehkan untuk melakukannya. Syahnun bertanya kepada Ibnu al-Qasim, “Apa pendapat imam Malik perihal orang Afrika yang tinggal di Mesir pada saat hari raya, di mana zakat fitrinya ditunaikan? Ibnu al-Qasim menjawab, “Imam Malik mengatakan, “Zakat fitri ditunaikan di mana dia berada, jika keluarganya yang di Afrika membayarkan zakat fitri untuknya, hukumnya boleh dan sah” (al-Mudawwanah).

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kita mesti memahami kaidah bahwa zakat fitri itu mengikuti badan, yaitu badan wajib zakat. Sedangkan zakat harta mengikuti harta tersebut berada. Berdasarkan hal ini maka orang yang berada di Mekkah, zakat fitrinya ditunaikan di Mekkah, sedangkan keluarganya yang tinggal di luar Mekkah, zakat fitrinya ditunaikan di tempat mereka masing-masing.” (Majmu’ al-Fatawa).

Kapan Kewajiban Zakat Fitri Dimulai?

Telah disebutkan di awal bahwa zakat ini disebut zakat fitri karena adanya sebab, yaitu zakat ini disyariatkan karena adanya al-fithr, yaitu waktu berbuka setelah sebelumnya seorang muslim berpuasa selama sebulan. Sehingga zakat ini diwajibkan ketika ada waktu fitri. Mereka yang menjumpai waktu tersebut berkewajiban menunaikan zakat fitri. Sebaliknya, mereka yang tidak menjumpainya tidak berkewajiban menunaikan.

Terkait batas awal dimulainya waktu fitri, para ulama berselisih pendapat. Namun, pendapat terkuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa waktu fitri dimulai sejak terbenamnya matahari pada puasa terakhir bulan Ramadhan. Hal ini dikarenakan pada momen tersebutlah setiap muslim memulai berbuka dan mengakhiri puasa Ramadhan yang dilakukannya.

Berdasarkan hal tersebut, mereka yang menjumpai waktu ketika matahari terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan berkewajiban untuk menunaikan zakat fitri. Contoh akan hal ini adalah sebagai berikut:

Contoh pertama

Bayi yang dilahirkan beberapa saat sebelum matahari terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan maka wajib dizakati oleh orang tua. Hal ini dikarenakan bayi tersebut telah menjumpai waktu fitri. Sebaliknya, jika dilahirkan beberapa saat setelah matahari terbenam di hari tersebut maka tidak wajib untuk dizakati karena bayi ini lahir dan tidak menjumpai waktu fitri. Alasan ini pula yang mendasari mengapa janin yang berada dalam kandungan tidak perlu dizakati.

Contoh kedua

Orang yang meninggal beberapa saat setelah matahari terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan berkewajiban ditunaikan zakatnya karena dia menjumpai waktu fitri. Sebaliknya, jika dia meninggal beberapa saat sebelum matahari terbenam maka tidak wajib dizakati karena idak berjumpa dengan waktu fitri. (al-Minhaj).

Batas Akhir Penunaian Zakat Fitri

Dari hadits Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiallahu anhum sebelumnya dapat diketahui bahwa zakat fitri wajib ditunaikan sebelum shalat hari raya dilaksanakan. Adapun seorang yang menunda pelaksanaan zakat fitri hingga shalat ‘id selesai dilaksanakan, menurut pendapat yang lebih kuat kewajiban tersebut tidaklah gugur sampai ditunaikan. Dia berkewajiban menunaikan zakat fitri meski telah keluar batas waktu dan bertaubat kepada Allah karena di dalam zakat fitri terdapat hak untuk manusia (fakir miskin) dan ada hak untuk Allah.

Hak untuk manusia (fakir miskin) tidak bisa gugur sampai zakat ini diberikan kepada mereka. Sedangkan terkait hak Allah kewajiban orang tersebut untuk bertaubat dan menyesali perbuatannya. Dengan melakukan keduanya (membayar zakat dan bertaubat) berarti dia telah memenuhi hak Allah dan hak manusia. Namun, apa yang telah dia tunaikan tidak dianggap sebagai zakat fitri namun statusnya adalah sedekah biasa sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma.

Wallahu a’alam.[]

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.