Alhamdulillah segala puji milik Allah Ta’ala. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya..Amma Ba’du.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Allah ’azza wa jalla berfirman, “Anak Adam menyakiti-Ku. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Aku-lah yang membolak-balikkan siang dan malam.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Penjelasan ringkas

Pada hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menginformasikan bahwa Allah ta’ala merasa terganggu dengan celaan hamba terhadap waktu, karena ketika mencela waktu, hamba turut mencela Dzat yang mengatur pergantian waktu, yaitu Allah ta’ala. Waktu itu tidak bisa berbuat apa-apa, sehingga ketika ia dicela, celaan itu pada dasarnya tertuju kepada Allah ta’ala.

Alim ulama menerangkan bahwa mencela waktu dibagi menjadi tiga kondisi sebagai berikut:

1. Celaan yang bernilai syirik besar sehingga dapat menggugurkan tauhid, seperti perkataan “betapa sial waktu saat ini”; “malam ini, jika lagi panas, sangat panas, dan jika lagi dingin, sangat dingin, yang disertai keyakinan bahwa yang menciptakan panas dan dingin adalah waktu dan malam itu sendiri.

2. Celaan yang bernilai kemaksiatan dan tidak boleh dilakukan, karena berasal dari minimnya kesabaran dan kesadaran dalam berharap pahala, serta karena kecewa dengan takdir Allah ta’ala. Hal ini seperti ungkapan kekesalan terhadap cuaca yang sangat panas dan dingin, namun dia mengetahui dan meyakini bahwa Allah ta’ala semata yang menciptakan hal tersebut.

3. Ungkapan yang diperbolehkan karena semata-mata menginformasikan kondisi yang ada. Hal ini seperti perkataan “hari ini cuacanya panas” atau “hari ini angin bertiup kencang dan berudara panas”. Ungkapan tersebut diperbolehkan selama bukan ungkapan kemarahan, protes, kekecewaan, dan tidak diiringi keyakinan yang keliru.

Pada hadits di atas dinyatakan bahwa dengan mencela waktu, hamba telah mengganggu dan menyakiti Allah ta’ala, namun celaan itu bukan berarti melukai Allah ta’ala. Mahasuci Allah dari hal tersebut. Hal ini sebagaimana yang dialami oleh manusia sendiri, dimana dia bisa terganggu tatkala mendengar perkataan yang jelek, ketika melihat sesuatu yang buruk, atau mencium sesuatu yang berbau busuk. Tentu bagi Allah, dalam hal ini, berlaku permisalan yang lebih tinggi dan suci.

Oleh karena itu, Allah ta’ala menetapkan dalam firman-Nya, bahwa Dia bisa tersakiti. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” [Al-Ahzab: 57]

Tapi, di sisi lain Allah ta’ala menafikan adanya mudharat atau bahaya yang bisa menimpa diri-Nya. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا ۗ

“Sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun.” [Ali Imran: 176]

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِي إِنّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرّي فَتَضُرّونِي

“Wahai para hamba-Ku sesungguhnya kalian tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada-Ku sehingga kalian bisa membayakan-Ku” [HR. Muslim]

Mencela waktu, tanah, batu, benda mati, dan berbagai makhluk yang lain tercakup dalam perbuatan mencela Allah ta’ala, karena pada dasarnya perbuatan itu berarti mencela Dzat yang telah menciptakan mereka. Andai kita mencela sebuah bangunan karena konstruksinya yang rapuh atau mencela sebuah mobil karena mesinnya yang jelek, tentu hal itu berarti mencela tukang yang membuat rumah dan pabrik yang memproduksi mobil.

Dengan demikian, ungkapan yang berisi celaan terhadap makhluk harus dihindari dan diwaspadai.[]

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.