Alhamdulillah segala puji milik Allah Ta’ala. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya..Amma Ba’du.

Sesungguhnya di antara penyakit hati yang sangat berbahaya dibanding penyakit-penyakit hati yang lainnya, penyakit hati yang tidak hanya diidap oleh iblis, tidak hanya diderita oleh para pendosa, bahkan orang-orang sholeh pun ditimpa penyakit ini. Penyakit yang sangat buruk ini adalah penyakit kesombongan. Dalam sebuah hadits dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.

“Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan seberat biji sawi di dalam hatinya.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, (apakah itu kesombongan?”) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allâh Maha Indah dan menyintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”. [HR. Muslim].

Dalam hadits ini disebutkan bahwa kesombongan akan menghalangi seseorang dari masuk surga. Walaupun kadarnya hanya sebesar dzarrah. Dzarrah dalam bahasa Arab diartikan dalam beberapa makna. Di antara artinya adalah semut kecil. Semut kecil kalau kita letakkan di timbangan, sangat ringan sekali, bahkan beratnya hampir tak berarti bagi kita. Ada lagi yang menafsirkan bahwa dzarrah adalah apabila seseorang menepukkan tangannya di tanah, kemudian dia bersihkan, maka akan tersisa butiran-butiran debu di tangannya. Nah dzarrah adalah sekadar satu butiran debu tersebut.

Tafsiran yang lain menyatakan, apabila seseorang membuka jendela rumahnya, ia akan melihat ada debu-debu yang berterbangan. Itulah yang dimaksud dengan dzarrah. Yang seandainya ditimbang harus menggunakan timbangan khusus. Dan beratnya pun tidak berarti bagi kita.

Kalau kita renungkan, seseorang yang memiliki kesombongan dengan kadar tersebut, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dia tidak akan masuk surga. Apalagi kalau kesombongan tersebut sebesar batu. Apalagi kalau sebesar gunung. Apalagi kalau dadanya penuh dengan kesombongan.

Sewaktu Nabi ditanyakan tentang kesombongan, beliau menggambarkan bagaiman ekspresi nyata dari kesombongan tersebut.

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”

Apabila seseorang mendapati pada dirinya perasaan meremehkan dan merendahkan orang lain. Hendaklah ia waspada. Karena ini adalah indikator atau tanda yang kuat bahwa ia sedang terjangkiti penyakit kesombongan.

Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan menzalimi yang lain.” [HR. Muslim].

Hadits ini adalah petunjuk yang jelas jangan sampai seseorang merasa sombong dan lebih dibanding muslim yang lain. Dan hadits ini menuntunkan untuk bersifat tawadhu (rendah hati) yang merupakan kebalikan dari sombong.

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. المسلم اخو المسلم لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ . التقوى ها هنا – وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ – بحسب امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ ) رواه مسلم (2564) .

“Jangan saling dengki, jangan saling menipu, jangan saling marah dan jangan saling memutuskan hubungan. Jangan kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kamu semua hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim lainnya, jangan menzalimi, mencela, dan menghinanya. Takwa itu disini –seraya menunjuk ke dadanya tiga kali- Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk, jika dia menghina saudaranya muslim. Setiap Muslim atas muslim lainnya itu diharamkan darah, harta dan kehormatannya.” [HR. Muslim].

Perhatikan sabda Nabi, “Dan jangan menghinanya. Takwa itu disini –seraya menunjuk ke dadanya tiga kali”. Ada dua penafsiran tentang lafadz ini. Pertama, seakan-akan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, mengapa engkau meremehkan dan merendahkan orang lain? Padahal yang menjadi ukuran kedudukan seseorang di sisi Allah adalah ketakwaan yang ada di hati. Tidak ada seorang pun yang mengetahui isi hati orang lain, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengapa engkau merendahkannya, apakah engkau lebih bertakwa daripada dia? Mungkin engkau melihat amalan zahirnya, tapi kau tak tahu bagaimana isi hatinya.

Bisa jadi amalan zahir seseorang kurang di mata yang lainnya, tapi hatinya lebih ikhlas, jauh dari berbangga dan ingin dipuji. Hatinya lebih takwa dan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya seseorang tak bisa menyatakan bahwa dia lebih baik dari yang lain.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahihnya dari Sahl bin Saad, ia berkata,

مَرَّ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لرَجُلٍ عِنْدَهُ جَالِسٍ مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَشْرَافِ النَّاسِ هَذَا وَاللَّهِ حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ يُنْكَحَ وَإِنْ شَفَعَ أَنْ يُشَفَّعَ قَالَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ مَرَّ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأْيُكَ فِي هَذَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا رَجُلٌ مِنْ فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ هَذَا حَرِيٌّ إِنْ خَطَبَ أَنْ لَا يُنْكَحَ وَإِنْ شَفَعَ أَنْ لَا يُشَفَّعَ وَإِنْ قَالَ أَنْ لَا يُسْمَعَ لِقَوْلِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الْأَرْضِ مِثْلَ هَذَا

Ada seorang laki-laki melewati Rasulullah, lalu beliau berkata kepada orang yang duduk di dekat beliau, “Apa pendapat kalian dengan laki-laki ini”? Ia menjawab, “Ia seorang yang terpandang di kalangan manusia. Ini, demi Allah, sudah pantas bila melamar, pasti akan diterima, dan bila dimintai bantuan pasti akan dibantu.” Nabi diam. Beberapa saat kemudian, lewatlah seorang laki-laki lain, lalu Rasulullah bertanya kepadanya, “Apa pendapatmu dengan orang ini”? Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, menurutku, orang ini adalah orang termiskin dari kalangan kaum muslimin. Apabila ia melamar sudah pantas lamarannya untuk ditolak. Jika dimintai pertolongan dia tidak akan ditolong. Dan apabila berkata, perkataannya tidak akan didengar.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalla, bersabda, “Sungguh orang ini (orang yang terlihat miskin) lebih baik dari dunia dan seisinya daripada orang yang ini (orang yang pertama).”

Ini tafsiran yang pertama.

Tafsiran yang kedua dari sabda Nabi “Dan jangan menghinanya. Takwa itu disini –seraya menunjuk ke dadanya tiga kali” adalah kalau kamu suka merendahkan orang lain. Suka mencela dan menghina orang lain. Ketauhilah bahwa ketakwaanmu sedang bermasalah. Isi dadanya sedang dijangkiti penyakit.

Tatkala seseorang senang menghina dan mencela orang lain, itu artinya ketakwaannya sedang bermasalah. Ia sedang dihinggapi penyakit sombong dan keangkuhan. Oleh karena itu, tatkala Allah berfirman dalam Surat Al-Humazah:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” [Quran Al-Humazah: 1].

Setelah itu, Allah sebutkan tentang sifat neraka.

الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ

“yang (membakar) sampai ke hati.” [Quran Al-Humazah: 7].

Sebagian ulama menjelaskan, tidaklah seseorang suka mengumpat, mencibir, dan mencela, kecuali hatinya bermasalah. Ada indikasi yang kuat bahwa di hatinya ada kesombongan dan keangkuhan. Wal’iyaadzubillah.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.