Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573).

Hadits ini menunjukkan semua yang terjadi pada dirinya, baik berupa kekhawatiran akan masa depan, ketakutan lantaran yang telah terjadi menimpanya, keletihan, kesedihan, dll. ini semua merupakan buah dari perbuatan dosa yang telah dia lakukan. Dengan demikian semua kesulitan yang menimpa kita di dunia, terlebih di akhirat kelak adalah akibat perbuatan dosa yang kita lakukan. Dari sini kita mengetahui bahwa dzikir yang paling agung adalah dzikir al-istighfar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِى صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

“Sungguh beruntung bagi orang yang mendapatkan dalam buku catatan amalnya, banyak istighfar.” (HR. Ibnu Majah 3950, dan dishahihkan al-Albani).

Orang yang demikian adalah orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Dengan istighfar, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni kesalahan-kesalahannya. Dan dengan istighfar, seseorang akan mendapatkan kemudahan di dunia dan akhirat.

Lalu apa makna istighfara?

Istighfar (Arab: إستغفار) berasal dari kata istaghfara (Arab: استغفر) yang artinya meminta al-maghfirah (Arab: مغفرة) kepada Allah. Sedangkan maghfirah sendiri berasal dari kata mighfar (Arab: مغفار) yang artinya helm pelindung kepala yang dipakai oleh seorang prajurit dalam peperangan. Dan tidaklah seseorang memakai mighfar kecuali telah terwujud pada dirinya sitr (menutupi) dan wiqoyah (perlindungan). Oleh karena itu, seseorang tidak disebut memakai mighfar dengan mengenakan sorban atau kopiah. Karena sorban dan kopiah hanya menutupi tidak melindungi. Mighfar adalah helm yang digunakan seorang prajurit untuk menutupi kepalanya saat berperang. Helm itulah yang melindungi kepalanya dari hantaman pedang dan senjata-senjata lainnya.

Dari sini kita bisa memahami, tatkala kita beristighfar kepada Allah artinya kita memohon kepada Allah agar menutupi aib-aib kita. Agar Dia tidak membongkar kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Agar Dia merahasiakan dosa-dosa kita. Karena sungguh rugi seseorang yang dibuka oleh Allah aib-aibnya tatkala di dunia. Orang-orang membencinya. Orang-orang tidak mendengarkannya apalagi mengikutinya. Terlebih lagi kalau aibnya dibongkar di akhirat. Ini sungguh mengerikan dan kebinasaan.

Dengan demikian, makna pertama dari mengucapkan istighfar adalah Ya Allah jangan kau bongkar aib-aibku. Jangan kau pertontonkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahanku.

Kemudian makna yang kedua adalah kita memohon perlindungan agar dosa-dosa kita ini tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi kita. Karena dosa pasti memiliki dampak. Setidaknya dosa itu membuat hati kita menjadi hitam. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}”.

“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 4). HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi.

Ketika hatinya menghitam, maka ia merasakan ketidak-tenangan. Ia merasa gelisah. Hatinya menjadi keras dan sulit tersentuh. Semakin banyak seseorang mengerjakan dosa, semakin mudah ia terpengaruh dengan maksiat dan dosa. Semakin mudah ia terpengaruh dengan syahwat dan syubhat. Belum lagi dampak-dampak yang lain. Bisa dalam bentuk diganggu orang lain, rasa sedih yang tak hilang-hilang, dll.

Dengan demikian, makna dari ucapan astaghfirullah adalah ya Allah tutupilah dosa-dosaku di dunia dan akhirat. Dan lindungilah aku dari dampak-dampak dosa di dunia dan akhirat.

Sesungguhnya lafal istighfar itu banyak. Di antaranya: astaghfirullah, astaghfirullah wa atubu ilaih, astaghfirullahal azhim, dll.

Apabila istighfar disebutkan secara bersendirian, maknanya adalah meminta ditutupi dan diampuni dosa-dosa. Maknanya sama dengan taubat. Dan taubat kalau disebutkan secara sendirian, maknanya juga mengandung taubat.

Namun kalau penyebutan istighfar digandeng dengan taubat. Seperti: astaghfirullah wa atubu ilaih (Aku mohon ampun dan bertaubat kepada Allah), Rabbighfirli wa tub ‘alayya (Ya Allah ampunilah aku dan terimalah taubatku). Kata para ulama, taubat kedudukannya lebih tinggi dari istighfar. Seperti firman Allah Ta’ala,

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

“Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya.” [Quran Hud: 52].

Allah menyebutkan istighfar kemudian taubat. Lalu apa maknanya kalau istighfar disandingkan dengan taubat?

Taubat melazimkan seseorang meninggalkan dan berhenti dari melakukan maksiat yang ia taubati. Tidak ia lakukan lagi. Adapun istighfar, bisa jadi tatkala beristighfar orang masih melakukan kesalahan dan dosanya tersebut. Oleh karena itu, seseorang baik ia mampu meninggalkan perbuatan dosa atau tidak mampu meninggalkannya, tetap wajib baginya beristighfar.

Karena itu, dalam lafadz suatu istighfar adalah kalimat:

وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ

“Aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku.”

Maksudnya, Ya Allah aku mengakui dosa yang aku tidak mampu meninggalkannya. Ada seseorang yang terjebak dalam suatu perbuatan dosa. Orang seperti ini, janganlah dia berputus asa. Teruslah beristighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai ia mencapai deraja taubat. Yaitu meninggalkan perbuatan dosa tersebut.

Oleh karena itu, di antara ucapan istighfar yang diajarkan Nabi adalah:

رَبِّ اغْفِرْلِي وَتُبْ عَلَيَّ

“Ya Rabb-ku, ampunilah aku dan aku bertaubat kepada-Mu.”

Wa tub ‘alayya bisa diartikan: Ya Allah, kalau aku belum bertaubat, anugerahkanlah taubat kepadaku. Ilhamkanlah taubat kepadaku. Ini kondisi saat kita belum bisa meninggalkan dosa tersebut.

Dan bisa juga berarti: Ya Allah, kalau aku sudah berhenti dari maksiat, terimalah taubatku. Ini kondisi ketika kita sudah mampu meninggalkan perbuatan dosa.

Tatkala seseorang telah meninggalkan perbuatan dosa. Dia bertaubat kepada Allah. Dan Allah menerima taubatnya dan menghapuskan dosa-dosanya, saat itulah Allah kembali mencintainya. Tatkala dia berbuat maksiat, Allah murka kepadanya. Tatkala dia membangkang perintah Allah, Allah marah kepadanya. Tapi saat dia telah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah kembali mencintainya.

Karena itu, tidak benar perkataan sebagian orang yang menyatakan saat seorang berbuat dosa dan bertaubat, Allah mengampuninya, namu tidak lagi mencintainya. Ini pernyataan yang tidak benar. Dan dibantah dengan firman Allah,

وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُودُ

“Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.” [Quran Al-Buruj: 14].

Sebagian ulama menafsirkan, Allah menggabungkan kedua nama-Nya, Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan Al-Wadud (Maha Mencintai). Artinya tatkala ia terjerumus dalam kubangan dosa dan maksiat, kemudian dia bertaubat, maka Allah pun akan mencintainya. Karena Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang kembali kepada-Nya.

Wallaahu Ta’ala A’lam.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.