rumahhufazh.or.id (Jakarta) – Berawal dari kehidupan perih yang dijalaninya, Yopi Firmansyah (35), pemuda asal Lembang mewakafkan dirinya untuk membantu orang lain. 

Cara yang ditempuhnya saat ini dengan mendirikan lembaga pendidikan Pondok Quran Yatim dan Duafa, Baitul Jannah untuk anak korban perceraian orang tua, yatim, dan dhuafa di Kampung Pageurmaneuh, Lembang. 

Saat ditemui di Pondok Quran, Yopi mengungkapkan jika dirinya merupakan korban dari perceraian orang tuanya atau broken home saat kelas 2 SD. Tidak hanya itu, dirinya sempat mengenyam kerasnya jalanan saat mengamen di simpang Dago, Kota Bandung.  

“Saya juga dulu korban perceraian (orang tua) dan nggak nyaman dengan broken home serta korban bully. Saya juga dulu ngamen di simpang Dago dari SMA kelas 1 sampai kelas 2 hingga akhirnya saya gak tamat SMA,” ujarnya yang tengah didampingi Ustaz Irfan, Rabu (17/7).  

Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, dia pun bercerita terpaksa berjualan asongan di objek wisata Tangkuban Perahu. Bahkan, pekerjaan-pekerjaan kasar pernah dilakoninya saat masa-masa dulu.  

Meski berada dilingkungan jalanan, Yopi mengaku sering datang ke acara-acara pengajian pada Kamis malam yang diselenggarakan oleh Daarut Tauhid di Gegerkalong. Dia sempat belajar agama tiga bulan di pesantren Nurul Huda, Nyalindung, Cikole.  

“Meski anak jalanan, saya senang ke Daarut Tauhid tahun 2000-an dan sering ke sana. Di sana saya dapat banyak pencerahan dan kisah-kisah yang banyak,” katanya.  

Sejak saat itu, tepatnya 2007 dia mengungkapkan mulai menulis buku motivasi secara otodidak. Dibantu pengeditan oleh temannya saat itu yang merupakan mahasiswa UIN. Berkat buku Kamu pasti bisa: Tujuh kunci Menggapai Cita-cita” yang ditulisnya yang kini masuk cetakan kelima membuat dirinya sering dipanggil menjadi pemateri motivasi.

“Sejak saat itu, saya sering mengisi materi motivasi di sekolah-sekolah, radio, instansi seperti Dispora Bandung bahkan sempat mengisi acara ke tenaga kerja yang ada di Malaysia,” katanya. Profesi pemberi motivator menjadi kegiatannya kini sehari-hari. Dia pun mengaku senang membaca buku. 

Di tengah perjalanan hidupnya yang kini mulai stabil dan maju, bapak dari lima anak ini merasakan kehampaan ketika hidup hanya untuk diri sendiri. Dia merasa lebih bahagia ketika berbagi terutama kepada orang yang berlatar belakang sepertinya.

“Saya akhirnya ngobrol dengan ustaz Irfan berniat bikin pesantren. Beliau bilang dari mana modalnya. Saya bilang mengapa kita nggak ngontrak dulu,” katanya. Akhirnya sebuah bangunan bekas rumah makan dikontraknya dengan harga Rp 60 juta pertahun.  

Dia mengaku menggunakan dana tabungan pendidikan anaknya sebesar Rp 20 juta untuk membayar sebagian kontrakan. Sedangkan sisanya masih belum dibayarkan. “Tadinya uangnya buat anak sekolah tapi akhirnya dibuat pondok dan anak saya belajar di sini,” katanya. 

Dirinya akhirnya merekrut santri-santri korban perceraian orang tua, yatim dan duafa yang berada di Lembang secara gratis. Katanya 30 orang menginap di pondok dan 60 orang lainnya ikut kegiatan pondok namun tidak menginap. Selain itu terdapat tujuh relawan pengajar yang dibayar seikhlasnya.   

“Saya nggak mau, (santri-santri) korban perceraian mengalami seperti saya. Kena narkoba karena broken home. Ini ikhtiar saya agar anak-anak tidak ke jalanan dan hancur serta terjun ke dunia bebas. Saya merasakan banget (kerasnya jalanan) dan nggak mau melihat kondisi anak memprihatinkan,” katanya.  

Selalu bersyukur

Dirinya mengungkapkan selalu berpesan kepada anak-anak untuk bersyukur. Sebab di negara yang tengah terjadi peperangan seperti di Suriah, anak-anak menjadi korban. Tiap Sabtu dan Ahad, dia mengatakan anak-anak diajak berwirausaha dengan berjualan surabi dan bros.

“Anak-anak di sini yang masih SD belajar menghafal Alquran dan ngaji kitab sehabis pulang sekolah, jumlahnya 19 orang. Kalau SMP belajar formalnya disini ada 11 orang. Ada beberapa santri yang sudah hafal 3 juz,” katanya.

Kendala yang dihadapinya saat ini adalah biaya operasional makan yang cukup besar yaitu Rp 18 juta perbulan. Terlebih belum adanya donatur tetap. Meski begitu, dia tetap yakin selalu ada jalan untuk menutupi itu semua. Katanya, selama ini dana operasional yang digunakan berasal dari dana pribadinya dan Ustaz Irfan.

Salah seorang santri, Rafi al-Ghiffari (14) yang menginap di pondok mengaku betah dan terbiasa dengan membaca Alquran. Dirinya mengaku orangtuanya telah bercerai. Ibunya saat ini sudah menikah lagi sedangkan ayahnya tidak diketahui keberadaannya.

“Pernah dicari (bapak) ke Cianjur tapi nggak ada. Keluarga bapak juga nggak tahu dimana bapak,” katanya. Yopi menambahkan, ayah tiri Rafi yang bekerja sebagai sopir memasukan Rafi ke pondok karena masuknya gratis. “Saya harap minimal (pondok) bisa bertahan dan 30 orang ini jadi orang sukses. Jangan jadi penjahat karena nggak keurus orang tuanya,” pungkas Yopi seperti dikutip dari republika[]

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.