rumahhufazh.or.id (Jakarta) – Menyebut nama Kutai Kartanegara tentu tidak bisa lepas dari sejarah panjangnya sebagai kerajaan besar tertua di Indonesia.

Di mulai pada abad ke-4 masehi, Raja Kudungga mendirikan Kerajaan Kutai Martadipura di hulu Sungai Mahakam, Muara Kaman, Kalimantan Timur. Kerajaan Kutai Martadipura merupakan kerajaan bercorak Hindu pertama di bumi Nusantara. Kerajaan Kutai Martadipura mencapai masa kejayaannya ketika dipimpin oleh Raja Mulawarman.

Pada abad ke-16 masehi, Kerajaan Kutai Martadipura ditaklukkan oleh Kerajaan Kutai Kartanegara di bawah pimpinan Raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa. Raja Kutai Kartanegara pun kemudian menamakan kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sebagai peleburan antara dua kerajaan tersebut.

Pada abad ke-17 masehi, Kerajaan Kutai Kartanegara mendapat pengaruh Islam. Agama Islam yang disebarkan Tuan Tunggang Parangan diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu dipimpin Aji Raja Mahkota Mulia Alam.

Setelah beberapa puluh tahun, sebutan Raja kemudian diganti dengan sebutan Sultan. Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778) merupakan Sultan Kutai Kartanegara pertama yang menggunakan nama Islam. Sejak tahun 1735 tersebut, Kerajaan Kutai Kartanegara berganti nama menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara. Kesultanan Kutai Kartanegara berakhir pada 1960.

Pada tahun 1999, Bupati Kutai Kartanegara, Syaukani Hasan Rais berniat untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Dikembalikannya Kesultanan Kutai ini bukan dengan maksud untuk menghidupkan feodalisme di daerah, namun sebagai upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia.

Pada 26 Agustus 2019, Presiden Jokowi memutuskan memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Kabupaten Kutai Kartanegara dan di sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara. Apakah keputusan pindah ibu kota ke wilayah tersebut, khususnya di Kutai Kartanegara, merupakan bagian dari perjalanan panjang untuk mengulang pusat peradaban dari bumi Nusantara untuk dunia?

Sumber : id.wikipedia.org

.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.