Seorang muslim wajib berlaku jujur dalam perkataan, perbuatan, dan keyakinannya. Sebab, sesungguhnya kejujuran itulah yang akan mengangkat seseorang ke level derajat yang sangat tinggi baik di hadapan Allah ‘azza wajalla ataupun di hadapan makhluk-Nya.

Kejujuran adalah menyelaraskan antara yang tampak dan yang tersembunyi, yang diperlihatkan di hadapan manusia atau pun yang disembunyikan dari mereka, dengan tidak melakukan kedustaan antara hati, perkataan, dan perbuatan seseorang.

Kejujuran adalah akhlak yang sangat mulia. Karakter jujur ini tidak akan melekat kecuali pada diri orang-orang yang memiliki hati yang lurus. Oleh karena itu, Allah ‘azza wajalla memerintahkan hamba-Nya agar selalu mendekat dan membersamai orang-orang yang jujur setelah memerintahkan untuk bertakwa.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (At-Taubah 119)

Kejujuran adalah akhlak yang dimiliki oleh para Nabi. Bahkan, kejujuran inilah karakter pertama yang selalu tampak pada diri setiap nabi sejak sebelum diutus sebagai seorang Nabi.

Dengan berbekal akhlak kejujuran inilah para Nabi diutus oleh Allah ‘azza wajalla untuk memerangi segala bentuk kedustaan yang telah menyeret manusia menuju jurang kejahiliyahan.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِبْرٰهِيْمَ ەۗ اِنَّهٗ كَانَ صِدِّيْقًا نَّبِيًّا

“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al–Quran), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan, seorang Nabi.” (Maryam 41)

Dalam surat Maryam ayat 54 Allah ‘azza wajalla juga berfirman tentang akhlak jujur pada Nabi Ismail ‘alaihissalam,

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ اِسْمٰعِيْلَ ۖاِنَّهٗ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَّبِيًّا ۚ

“Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Ismail di dalam Kitab (Al–Quran). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi.”

Karena betapa mulianya manusia yang memiliki akhlak kejujuran inilah sampai-sampai orang jahiliyah pun tak berkutik manakala bersosial dengan mereka. Bahkan, mereka pun akhirnya harus mengakui kejujuran orang tersebut sebagaimana posisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapat julukan al-Amiin dari orang-orang jahiliyah di Mekkah saat itu.

Jujur itu berat. Apalagi ketika kondisi diri kita terlanjur terbiasa berdusta. Kenapa? Karena memang kejujuran itu sebenarnya bentuk akhlak yang mampu membangun kepribadian seseorang yang positif dan kuat.

Oleh sebab itu setan selalu berusaha, mengerahkan segala daya upaya untuk menjerumuskan manusia ke dalam jurang kedustaan. Dan setan telah mempersiapkan jurang kedustaan itu sedemikian rupa sehingga siapa pun yang telah terjerumus ke dalamnya, ia akan sulit keluar dari lingkaran jurang tersebut.

Tujuan setan hanya satu, yaitu menghancurkan kepribadian positif manusia, sehingga ia tersesat selama-lamanya.

Itulah mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan umatnya tentang pentingnya akhlak kejujuran ini.

Beliau bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ؛ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا.

“Wajib atas kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan (pelakunya) kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan kepada surga. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.”

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ؛ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Dan jauhilah oleh kalian sifat dusta, karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan pelakunya kepada keburukan, dan keburukan itu menunjukkan kepada api neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim)

Seseorang yang senantiasa menghiasi dirinya dengan akhlak kejujuran, dengan izin Allah ‘azza wajalla, ia akan selalu mendapatkan ketenangan hati. Jaminan ini telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ؛ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ، وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkanlah segala yang meragukanmu kepada segala yang tidak meragukanmu. Karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada ketenangan, dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada keragu-raguan.” (HR. At-Tirmidzi)

Derajat kejujuran tertinggi adalah kejujuran lisan. Menjaga lisan untuk tetap jujur adalah upaya yang cukup berat. Sebab, untuk merealisasikan kejujuran lisan ini, seseorang harus senantiasa memerhatikan tiga hal sebelum menggerakkan lisannya untuk berucap.

Pertama, ia harus jujur dalam menyampaikan informasi. Informasi yang ia terima dari pihak lain; baik itu dari atasannya, atau dari saudaranya, atau dari sumber lainnya, harus disampaikan dengan sejujur-jujurnya.

Ia tidak boleh menambah atau mengurangi informasi tersebut, apalagi menyengaja untuk mengubah informasi tersebut, sehingga orang yang mendapat informasi dari dirinya menjadi tersesat tanpa disadari.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat 6)

Kedua, menghindari buruk sangka dan angan-angan palsu atau klise. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ؛ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Waspadalah dengan buruk sangka karena buruk sangka adalah sejelek-jeleknya perkataan dusta.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Ketiga, waspada membicarakan setiap informasi yang didapat. Tidak setiap informasi yang didapat harus disampaikan kepada orang lain.

Ada keadaan dimana kita harus diam meskipun kita tahu terhadap satu informasi, di samping ada keadaan yang memang menuntut kita untuk menyampaikan suatu informasi kepada seseorang.

Ada kalanya kita harus tidak berkata-kata, tidak menuliskannya di sosial media. Karena bisa jadi, jika kita memaksakan diri untuk melakukan itu, justru akan menimbulkan fitnah dan kegaduhan bagi siapa yang membaca atau mendengarnya. Bisa jadi jika memaksakan diri untuk menyampaikan itu, orang yang membaca atau mendengarnya tidak dapat memahami dengan baik, atau akan membuat kesimpulan yang keliru.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukup seseorang itu disebut berdusta ketika ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Derajat kejujuran yang kedua adalah kejujuran dalam niat dan keinginan. Setiap bentuk niat, keinginan, perencanaan, motivasi untuk berbuat, seluruhnya jujur diniatkan demi Allah ‘azza wajalla.

Seluruh bentuk perbuatan dan aktivitas yang tampak di hadapan manusia harus selaras dengan amalan hati yang tak kasat mata.

Jika seseorang mengucapkan atau menuliskan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang ada di dalam hatinya, maka ini menunjukkan keringnya kejujuran dalam persoalan niat.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

يَقُوْلُوْنَ بِاَلْسِنَتِهِمْ مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ

“Mereka mengucapkan sesuatu dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya.” (Al-Fath 11)

Bersambung…

.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.