Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkisah tentang tiga jenis orang yang termasuk golongan yang pertama kali disungkurkan di neraka.

Yang pertama adalah orang yang mengaku di hadapan Allah ‘azza wajalla yang meninggalnya mati syahid. Kemudian Allah ‘azza wajalla berfirman,

كَذَبْتَ. وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ.

“Engkau dusta, akan tetapi engkau mati agar disebut sebagai pejuang.”

Kemudian orang kedua adalah orang yang di hadapan Allah ‘azza wajalla mengaku sebagai orang yang berilmu ketika di dunia. Kemudian Allah ‘azza wajalla berfirman,

كَذَبْتَ. وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ.

“Engkau dusta, akan tetapi engkau mempelajari ilmu agar disebut sebagai orang yang berilmu.”

Orang yang ketiga mengaku di hadapan Allah ‘azza wajalla sebagai orang yang dermawan. Kemudian Allah ‘azza wajalla berfirman,

كَذَبْتَ. وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ

“Engkau dusta, akan tetapi engkau melakukan itu (infaq harta) agar disebut sebagai dermawan.”

Kemudian ketiga jenis orang tersebut diseret di atas wajahnya lalu dilemparkan ke dalam neraka karena ketidakjujurannya di hadapan Allah ‘azza wajalla. (HR. Muslim)

Derajat kejujuran ketiga setelah kejujuran lisan dan kejujuran niat adalah kejujuran perbuatan.

Kejujuran ini juga berat karena seseorang dituntut untuk selalu menyelaraskan antara perbuatan yang ia lakukan di hadapan manusia lainnya dengan perbuatan yang ia lakukan dalam kesendirian.

Setan selalu menjebak hamba-hamba Allah ‘azza wajalla dengan perkara ini. Kita sering mendapati, atau bahkan itu diri kita sendiri, seseorang yang terlihat khusyuk ketika shalatnya dilihat oleh orang lain. Namun ketika ia shalat dalam kesendirian, ia lakukan itu tanpa kekhusyukan. Di hadapan orang lain tampak khusyuk, namun sejatinya hatinya tidak sedang khusyuk.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan, “Mintalah perlindungan kepada Allah ‘azza wajalla dari Khusyuk Nifaq!”

Lalu orang-orang di sekeliling beliau bertanya, “Apa itu Khusyuk Nifaq?”

Beliau menjawab, “Ketika engkau melihat jasad seseorang tampak khusyuk, namun hatinya tidak sedang khusyuk.” (HR. Ahmad No. 769 dalam kitab az-Zuhdu, 1/117)

Derajat kejujuran keempat adalah kejujuran dalam menepati perjanjian dan kesepakatan. Baik itu perjanjian atau kesepakatan terkait waktu, tempat, atau pun perihal tertentu.

Kejujuran ini termasuk kejujuran yang jarang kita temui pada diri seseorang, bahkan diri kita sendiri. Kita dapati banyak sekali janji-janji yang tidak ditepati, kesepakatan-kesepakatan yang dikhianati, dan persetujuan-persetujuan yang dilanggar.

Ada tiga bentuk perjanjian dan kesepakatan yang sering tidak ditepati seseorang.

Pertama, perjanjian dan kesepakatan dengan Allah ‘azza wajalla.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَاَوْفُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ اِذَا عَاهَدْتُّمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْاَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّٰهَ عَلَيْكُمْ كَفِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ

“Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah, setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (An-Nahl 91)

Mentauhidkan Allah ‘azza wajalla dalam ibadah, berhukum hanya kepada hukum Allah ‘azza wajalla, mengingkari thaghut, dan senantiasa menegakkan syariat Allah ‘azza wajalla, semua ini adalah perjanjian kita kepada Allah ‘azza wajalla yang terangkum dalam kalimat syahadat laa ilaaha illallah. Maka, perjanjian dan kesepakatan tersebut wajib hukumnya untuk ditepati bagi siapa pun yang beriman kepada Allah ‘azza wajalla.

Kedua, perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

اِذَا جَاۤءَكَ الْمُنٰفِقُوْنَ قَالُوْا نَشْهَدُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُ اللّٰهِ ۘوَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُهٗ ۗوَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَكٰذِبُوْنَۚ

“Apabila orang-orang munafiq datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (Al-Munafiqun 1)

Menepati perjanjian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menghidupkan sunnah-sunnah beliau, membela ketika ada orang yang menghina dan melecehkan beliau, yang semua ini terangkum dalam kalimat syahadat wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.

Ketiga, perjanjian dengan sesama manusia. Syariat Islam memerintahkan kita untuk selalu menepati perjanjian dan kesepakatan antar sesama manusia. Perjanjian dan kesepakatan dengan atasan dan pemimpin, perjanjian dan kesepakatan yang dibuat sesama manusia, dan semisalnya.

Dan Allah ‘azza wajalla mengharamkan hamba-Nya dari pengkhianatan dan pelanggaran terhadap sesuatu yang telah disepakati antar sesama manusia. Bahkan, Allah ‘azza wajalla menggolongkan perbuatan ini sebagai perbuatan dusta yang tercela.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu ada tiga; jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika dipercaya ia berkhianat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam kesempatan lain beliau bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Ada empat perkara, barang siapa yang empat perkara itu semuanya ada di dalam dirinya, maka orang itu adalah seorang munafik yang murni – yakni munafik yang sebenar-benarnya – dan barang siapa yang di dalam dirinya ada satu perkara dari empat perkara tersebut, maka orang itu memiliki pula satu macam perkara dari kemunafikan sehingga ia meninggalkannya, yaitu: jikalau dipercaya berkhianat, jikalau berbicara berdusta, jikalau berjanji dia tidak tepati dan jikalau bertengkar maka ia berbuat kecurangan – yakni tidak melalui jalan yang benar lagi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah gambaran betapa beratnya menjaga diri untuk selalu jujur. Dalam kehidupan kita, selalu ada bisikan-bisikan dari setan berbentuk jin dan manusia yang mengintai setiap saat. Mereka membisikkan ke telinga kita untuk berlaku dusta dan khianat.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi kita petunjuk dan hidayahNya agar kita mampu menjadi hambaNya yang jujur serta dijauhkan dari sifat dusta dan khianat…Aamiin[]

.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.