Alhamdulillah segala puji milik Allah Ta’ala. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.. Amma Ba’du.

Sesungguhnya kaum Nuh ‘alaihissalam adalah umat pertama yang melakukan kesyirikan. Pelanggaran syariat terbesar itu muncul gara-gara mereka menerima godaan setan untuk menggambar orang-orang shaleh, tujuannya untuk mengenang keshalehan mereka, untuk menjadikan mereka teladan dalam ibadah dan keshalehan. Ketika generasi penggambar ini wafat, muncul generasi-generasi berikutnya, generasi yang tidak lagi mengenal ilmu, hingga mereka menyembah orang-orang shaleh tersebut.

Inilah cara setan dalam menipu umat manusia. Mereka memulai dari sesuatu yang dianggap remeh oleh manusia. Dianggap remeh kalau hal tersebut dapat menjadi wasilah kesyirikan. Mereka manfaatkan lemahnya akal, sedikitnya ilmu, dan ulama-ulama yang jelek hingga mereka tergelincir dari tauhid sepenuhnya.

Di zaman sekarang, setan melakukan berbagai cara mereka dalam menggoda umat Islam. Semisal menamakan sesuatu hal dengan peninggalan Islam, tempat dilahirkanya nabi ini atau orang shaleh ini, atau nabi atau orang shaleh dimakamkan di sini. Atau mereka pernah hidup dan berdiri di sini, atau orang shaleh tadi pernah beribadah di suatu tempat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita. Beliau telah menerangkan syariat, hukum-hukum agama, baik secara umum maupun terperinci, baik yang kecil maupun yang besar.

Di antara yang beliau jelaskan adalah jalan-jalan kesyirikan, beliau melarang mencari-cari jejak-jejak orang shaleh yang tidak mendukung praktik keagamaan. Melarang mengkultuskannya. Melarang shalat di situ. Melarang berdoa di sisinya. Mengusap-usap karena berharap berkah. Dan bersungguh-sungguh menyediakan waktu, tenaga, dan biaya untuk pergi ke sana.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan sebuah geraja di Habasyah yang memuat gambar-gambar. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi,

أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكِ الصُّوَرَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya mereka itu apabila di antara mereka terdapat orang yang soleh yang meninggal maka mereka pun membangun di atas kuburnya sebuah masjid/tempat ibadah dan mereka memasang di dalamnya gambar-gambar untuk mengenang orang-orang soleh tersebut. Mereka itu adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat kelak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور(لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ) متفق على صحته

“Allah melaknat Yahudi dan Nasroni, mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai masjid.” (Muttafaqun ‘alaih).

Mencari-cari peninggalan atau bekas orang-orang shaleh, pertama kali terjadi di zaman Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Saat itu, orang-orang mencari-cari dimana pohon yang dulu menjadi tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat melakukan Bai’atur Ridwan. Beliau pun mengingkari perbuatan demikian. Beliau peringatkan pelakunya dan memerintah agar pohon tersebut ditebang.

Ketika Umar selesai melaksanakan ibadah haji, ia melihat masjid yang orang-orang bersegera ke sana. Beliau bertanya, “Apa itu?” Dijawab, “Itu adalah tempat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di situ.” Umar menanggapi, “Seperti inilah dulu ahlul kitab sebelum kalian binasa. Mereka menjadikan bekas-bekas peninggalan nabi mereka tempat yang dikultuskan. Bagian bumi mana saja yang mudah bagi kalian, kerjakanlah shalat di sana. Yang tidak, lewatlah.”

Para ulama kita telah memperingatkan ziarah-ziarah yang tidak disyariatkan, yang diketahui dari agama yang mulia ini justru adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan memakmurkan masjid-masjid dan shalat di dalamnya. Dan tidak membangun di atas kubur seorang nabi atau kubur lainnya.

Demikian juga di tempat berdirinya nabi, tidak ditemukan di masa sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka di negeri-negeri Islam.

Badan fatwa Arab Saudi menyatakan bahwa naik ke gua yang telah dikenal, bukan termasuk syi’ar haji. Bukan pula merupakan ajaran Islam. (Kalau diyakini ibadah) Hal ini merupakan bid’ah. Dan jalan menuju kesyirikan. Oleh karena itu, seharusnya orang-orang dilarang untuk naik menuju gua. Tidak memberikan untuk mereka tangga atau hal-hal yang memudahkan untuk naik. Hal ini merupakan implementasi dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun ‘alaih).

Telah berlalu sejak awal turunnya wahyu hingga Islam memasuki adab yang ke-15, kita tidak mengetahui seorang pun dari khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga imam-imam kaum muslimin yang menganjurkan untuk melakukan hal ini. Kebaikan sepenuhnya ada pada mereka dan meneladani cara beragama mereka. Demikian pernyataan lembaga fatwa Arab Saudi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan kita untuk mengkultuskan makhluk dan tempat. Tapi Dia menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya semata. Agama Islam ini dibangun diatas wahyu bukan menginovasi ajaran dengan hawa nafsu. Siapa yang ingin berhasil dan selamat ikutilah jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.[]

.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.