rumahhufazh.or.id (Jakarta) – Direktorat Jenderal Bimbingan Islam Kementerian Agama menggelar kegiatan ‘Kemah Pemuda Lintas Paham Keagamaan Islam’ di Hotel Aryaduta, Karawaci, Kota Tangerang, Banten, 6-8 November 2019. 

Menteri Agama, Fachrul Razi dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan manfaat yang besar dalam mengokohkan moderasi beragama. Karena, sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan bangsa.

Dalam kesempatan itu, dia pun menegaskan, mereka yang menjelek-jelekan agama, serta mengkafirkan orang lain itu disebut radikal. 

“Kita bicara dari aspek agama, bahwa keyakinan bukan sebuah hal yang radikal. Kalau dia menjelek-jelekan agama lain, mengkafir-kafirkan, nah baru itu disebut radikal. Kalau orang takwanya tinggi, tentu tidak akan begitu,” kata Fachrul di lokasi, Rabu 6 November 2019. 

Menurutnya, tumbuhnya fenomena radikalisme berbasis agama belakangan ini, merupakan problem penting yang perlu secara khusus mendapatkan perhatian dari semua kalangan. Baik pemerintah maupun masyarakat secara umum. 

Sebab, sebagaimana yang diketahui, radikalisme yang membawa tendensi agama, atau berbasis agama, memiliki dampak langsung pada kerukunan hidup intra dan antarumat beragama. 

“Tentu saja, pemaknaan terhadap radikalisme ini perlu didefinisikan secara tegas, jelas, dan terukur. Jangan sampai terjadi penanganan yang keliru terhadap radikalisme, karena kekeliruan dalam mendefinisikan radikalisme itu sendiri,” ujarnya. 

Menurutnya, radikalisme agama tentu saja tidak boleh dimaknai sebagai paham keberagamaan yang kuat dan mengakar, karena radikalisme semacam ini bukanlah sebuah ancaman. 

Justru, keyakinan yang kuat dan mengakar dalam beragama sesungguhnya merupakan keharusan, agar keberagamaan kita berdiri di atas fondasi kokoh, dalam keteguhan iman yang tidak mudah diombang-ambing oleh faktor-faktor eksternal. 

“Paham keberagamaan semacam ini perlu diarahkan kepada nilai-nilai yang lebih substansial, seperti penerimaan terhadap toleransi atas paham berbeda, menguatkan perdamaian, dan nilai-nilai lain yang substansial dari ajaran agama,” katanya. 

Sejauh ini, kata dia, Kementerian Agama, bersama dengan Ormas Islam, tokoh-tokoh agama, serta lembaga-lembaga keagamaan senantiasa bersinergi. Dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan paham-paham keagamaan yang bertentangan dengan prinsip moderasi (wasathiyah).*

Sumber: Vivanews.com

.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.[]

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.