Al hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.  Shalawat dan salam atas Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan sahabatnya.

Menghafalkan Alquran adalah ibadah yang besar pahalanya. Hukum menghafalkannya fardu kifayah. Sama wajibnya dengan salat berjamaah. Mereka yang menghafalkannya adalah “Pembawa Panji Kebesaran Islam” kata Fudhail bin ’Iyadh.

Di sisi lain, hukum mempelajari ilmu agama (fikih) sebatas yang dibutuhkan untuk mengetahui dan memastikan keabsahan ibadah serta muamalah sehari-hari adalah fardhu ‘ain. Sedangkan hukum mendalaminya guna menjawab berbagai problematika keagamaan yang kompleks di tengah-tengah masyarakat adalah fardu kifayah.

Memang, banyak para pengahafal Alquran (hafiz) memiliki pengetahuan agama yang memadai untuk menjawab kebutuhan masyarakat umum. Tapi, tidak sedikit pula para pembawa panji kebesaran Islam ini justru tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup.

Memiliki pengetahuan agama yang dibutuhkan sebatas fardhu ‘ain adalah prioritas utama. Ini ketetapan yang tidak bisa ditawar. Baik bagi orang yang menghafalkan Alquran maupun bukan. Jangan sampai seorang hafiz tidak mengerti ilmu fardhu ‘ain. Dalam kaidah fikih disebutkan:

إذا تَعارَضَ واجِبانِ قُدِّمَ آكَدُهُما

“Apabila ada dua kewajiban bertentangan, maka didahulukanlah yang paling kuat dari keduanya.”

Fardu ‘ain tentu lebih didahulukan dari pada fardu kifayah. Sedangkan apabila yang bertentangan sama-sama fardu kifayah, maka tidak bisa ditentukan mana yang harus didahulukan. Sifatnya kondisional. Menghafal Alquran dan memperdalam ilmu agama  sama-sama fardu kifayah. Dengan perbedaan kondisi keluarga, kebutuhan masyarakat dan lain-lainnya, setiap orang bisa jadi memiliki prioritas berbeda untuk memilih salah satu dari keduanya.

Apabila di suatu daerah terdapat banyak ahli fikih dan tidak ada penghafal Alquran, maka menghafalkan Alquran bisa saja menjadi prioritas. Tapi, jika di daerah tersebut minim atau bahkan tidak ada sama sekali ahli fikih, maka memperdalam fikih hendaknya dijadikan prioritas.

Imam Al-Ghazali Rahimahullah berkata:

وترك الترتيب بين الخيرات من جملة الغرور بل قد يتعين على الإنسان فرضان أحدهما يفوت والآخر لا يفوت أو نفلان أحدهما يضيق وقته والآخر متسع وقته فإن لم يحفظ الترتيب كان مغرورا

“Tidak memperhatikan tahapan yang benar dalam melakukan amal-amal kebaikan adalah salah satu tipu daya Iblis. Terkadang, ada seseorang yang memiliki tanggung jawab dua fardu ain, salah satunya bisa segera hilang kesempatan melakukannya, sementara satunya lagi tidak. Atau, mendapat anjuran dua amal sunah, salah satunya sudah sempit waktunya, sementara satunya lagi memiliki waktu yang masih longgar. Apabila orang tersebut tidak memperhatikan tahapan urutan yang seharusnya, maka dia sungguh terbujuk tipu daya Iblis.” (Ashnaf Almaghrurin)

Walhasil, sebagai fardu kifayah, keduanya wajib ada di setiap daerah. Syukur-syukur jika di tengah-tengah kita ada yang ditakdirkan mendapatkan dua-duanya; hafal Alquran sekaligus alim fikih. Namun, sebelum menentukan untuk memilih salah satu, sebaiknya berisitikharah dan meminta petunjuk guru yang benar-benar alim terlebih dahulu, karena guru lebih mengetahui mana yang lebih maslahat untuk muridnya.

Dikisahkan dalam kitab Ta’limul Muta’alim bahwa mulanya Imam Al-Bukhari belajar tentang bab salat kepada Imam Muhammad bin Hasan. Tapi, gurunya itu justru “mengusir” Imam Al-Bukhari seraya berkata, “Pergilah belajar hadis.” Titah ini diperintahkan, karena gurunya melihat bahwa ilmu hadis adalah yang paling layak bagi Imam Al-Bukhari.

Andai saja Imam Al-Bukhari tidak mematuhi perintah ini, mungkin beliau tidak akan memiliki karya-karya tulis yang bermanfaat di seluruh dunia seperti saat ini. Tapi beliau mematuhinya dan akhirnya menjadi imam hadis terdepan umat Islam.[]

Wallaahu A’lam.

.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.[]

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.