عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ ” حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ هَكَذَا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi).

Ada empat hadits yang mengumpulkan semua tuntunan adab-adab kebaikan.

Pertama:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47).

Kedua: hadis yang akan kita bahas sekarang.

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ” حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ هَكَذَا

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”
Ketiga:

لَا تَغْضَبْ

“Janganlah engkau marah.” (HR. al-Bukhari).

Keempat:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian, sampai ia suka sekali berbuat yang baik kepada saudaranya, sebagaimana dia suka diperlakukan baik pula oleh saudaranya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).”

Dalam hadits-hadits inilah semua adab kebaikan terangkumkan.

Makna hadits ini adalah يَعْنِيْ dari kata عَنَى artinya sesuatu yang penting, yang ia perhatikan, dan menyibukkan. Artinya, sesuatu yang tidak penting dan bukan menjadi urusan kita, tidak perlu kita urusi dan sibuk dengannya.

Jangan sampai karena ingin dianggap mengetahui banyak hal, lalu kita berbicara tentang sesuatu yang bukan menjadi keahlilan kita. Sesuatu yang tidak pernah kita taruh perhatian dengan mempelajari dan mengkajinya.

Sesuatu yang memang bukan hak dan kewajiban kita. Atau bahasa mudahnya sesuatu yang bukan urusan kita.

Dengan demikian, kita tinggalkan sesuatu yang bukan urusan kita seperti hal-hal yang haram, yang makruh, yang syubhat, dan hal-hal mubah yang berlebihan. Jadi, intinya kita menjaga lisan kita dari berbicara. Kita belajar diam sebagaimana kita melatih diri kita untuk pandai berbicara.

Ahnaf bin Qais, tokoh bani Tamim. Beliau adalah seorang tabi’in. Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhuma berkata kepada Ahnaf bin Qais, “Kalau seandainya ia marah, maka akan turut marah bersamanya ratusan ribu orang tanpa bertanya karena apa Ahnaf marah.” Artinya Si Ahnaf ini seorang yang tenang. Terbiasa menilai suatu permasalahan sesuai dengan kadarnya. Tidak mudah terpancing dengan keadaan. Bersikap tenang dalam kadar yang tertinggi. Sehingga ketika dia marah, orang-orang pun tak perlu bertanya lagi. Lalu ada seseorang bertanya kepada Ahnaf bin Qais, “Bagaimana bisa ia mencapai kedudukan seperti itu di tengah kaumnya?” Ahnaf menjawab, “Aku meninggalkan sesuatu yang tidak penting untuk kucampuri.”

Diriwayatkan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Dujanah radhiallahu ‘anhu, dalam keadaan tenang dan tersenyum saat mengalami sakit menjelang wafat. Tidak kelihatan ketakutan, cemas, dan sempit. Kemudian ada yang bertanya kepadanya tentang hal itu

مَا لِوَجْهِكَ يَتَهَلِّلُ يَرْحَمُكَ اللهُ فَقَالَ: مَا مِنْ عَمَلٍ أَوْثَقُ عِنْدِيْ مِنْ خُصْلَتَيْنِ: كُنْتُ لَا أَتَكَلَّمُ فِيْمَا لَا يَعْنِيْنِيْ وَكَانَ قَلْبِيْ سَلِيْماً لِلْمُسْلِمِيْنَ

“Mengapa engkau tampak tenang (di saat seperti ini). Semoga Allah merahmatimu? Ia menjawab, “Tidak ada amalan yang membuatku yakin lebih dari dua amalan: Aku senantiasa tidak berbicara sesuatu yang bukan urusanku (sesuatu yang tidak bermanfaat). Dan hatiku bersih (tidak hasad) kepada seorang muslim.” (ash-Shamthu oleh Ibnu Abi Dun-ya, Hal: 133).

Hendaknya seorang muslim bersemangat mencapai derajat seperti ini. Yaitu meniggalkan sesuatu yang dia tidak butuh untuk membicarakannya dan orang pun tidak butuh dia ikut campur dalam hal itu. Tidak ada manfaat seandainya dia berbicara dalam masalah tersebut. Dan memiliki hati yang jauh dari hasad terhadap kaum muslimin.

Lalu, bagaimana hukumnya kita ikut campur dalam urusan orang lain? Hukum tentang permasalahan ini dirinci. Bisa jadi ikut campur dalam urusan orang lain itu wajib. Artinya penting dan harus ia lakukan. Manfaat ia dapatkan. Seperti mengubah kemungkaran.

Kalau seandainya amar makruf nahi mungkar dikatakan turut campur urusan orang lain, maka para nabi dan rasul telah melakukan sesuatu yang sia-sia. Tidak bermanfaat. Wal ‘iyadzubillah.

Para nabi dan rasul diutus untuk melarang orang-orang menyembah Tuhan selain Allah. Dan mengajak mereka untuk hanya menyembah Allah saja. Apakah ini tidak bermanfaat? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Quran Ali Imran: 110]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ وَلْتَنْهَوُنَّ عَنِ اْلمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَاباً مِنْهُ ثُمَ تَدْعُوْنَهُ فَلا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran atau (kalau tidak kalian lakukan) maka pasti Allah akan menurunkan siksa kepada kalian, hingga kalian berdoa kepada-Nya, tetapi tidak dikabulkan” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi].

Artinya, ini adalah perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Memang ini mencampuri urusan orang lain, tapi ini hukum wajib.

Kemudian, mencampuri urusan orang lain juga bisa berhukum dianjurkan. Seperti mengoreksi ucapan teman kita. Ucapan tersebut adalah urusan dan tanggung jawab dia. Bukan urusan kita. Tapi, kita dianjurkan untuk melakukannya. Supaya teman kita tidak jatuh kehormatannya. Baik di mata orang lain, dsb.

Bisa jadi juga yang berhukum mubah (boleh). Seperti bertanya kepada kerabat dan teman yang hendak bersafar, “Kapan berangkat ke Jakarta?” “Apa kabar hari ini?” Ini bukan urusan kita. Tapi ini boleh ditanyakan.

Bisa juga berhukum makruh. Ketika kita bertanya kepada seseorang tentang suatu keadaan dia dan dia merasa berat untuk menjawab dan memberitahukannya. Hal-hal yang ia anggap privat. Seperti, “Berapa gajimu?” dsb. Yaitu pertanyaan-pertanyaan yang membuat orang sungkan untuk menjawabnya.

Dan bisa jadi hukumnya haram. Yaitu ketika seseorang memata-matai orang lain. Atau dalam Bahasa sekarang “kepo”.[]

Wallaahu A’lam.

.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.