Di zaman sekarang ini banyak hal-hal yang membuat dada kita sesak. Kita temui begitu banyak peristiwa yang kita harapkan tidak semestinya terjadi. Namun kita saksikan hal itu hampir menjadi peristiwa harian. Khususnya terkait masalah pendidikan anak.

Kita saksikan, betapa banyak para orang tua dan wali menyia-nyiakan amanah terhadap anaknya. Padahal amanah anak adalah amanah yang besar. Khianat dalam amanah ini, merupakan sebesar-besar bentuk pengkhianatan. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” [Quran Al-Anfal: 27].

diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya.”

Diriwayatkan oleh at-Turmudzi dan dishahihkan oleh al-Albani dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ أحفظ أم ضيع حتى يسأل الرجل عن أهل بيته

“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang apa yang ia pimpin. Apakah ia menjaga atau menyia-nyiakan (yang dipimpinnya). Sampai seseorang ditanya tentang keluarganya (istrinya).”

Jika demikian, bukankah ini sebuah permasalah serius? Yang layak untuk kita perhatikan. Ini adalah amanah dari Allah. Tanggung jawab seorang kepala keluarga adalah menjaga anggota keluarganya dari api neraka. Dan menjauhkan mereka dari seluruh jalan yang dapat menghantarkan ke arah sana. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [Quran At-Tahrim: 6].

Coba renungkan, misalnya salah seorang kita diamanahkan untuk memegang uang sosial hasil dari penggalangan dana. Kita pegang uang tersebut dan kita perhatikan. Kita sangat takut kalau apa yang tercatat tidak sesuai dengan jumlah nominal uang yang nanti akan dihitung.

Lalu bagaimana dengan amanah dari Allah berupa anak-anak? Apakah kita tidak memperhatikan mereka dengan mendidik dan mengasuh mereka? Padahal tidak amanah dalam permasalahan ini merupakan sebesar-besar bentuk khianat.

Oleh karena itu, merupakan bentuk kelalaian yang besar, seseorang curang, zhalim, dan khianat dalam permasalahan ini. Diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidak ada seorang hamba yang Allah memberikan kekuasaan kepadanya mengurusi rakyat (orang yang ia tanggung), pada hari dia mati itu dia menipu mereka, kecuali Allah haramkan surga atasnya. (HR. Muslim, no. 142).

Kepala rumah tangga memiliki rakyat yaitu istri dan anak-anaknya. Kepala rumah tangga itu tidak memerintahkan anak-anak mereka untuk shalat. Tidak melarang mereka dari yang mungkar. Bahkan ia menjadikan rumahnya tanpa bimbingan. Ia sia-siakan anak-anaknya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang-orang yang demikian,

يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Pada hari dia mati itu dia menipu mereka, kecuali Allah haramkan surga atasnya.”

Ini adalah musibah umat ini. Musibah karena keadaan generasi muda umat. Musibah karena bibit-bibit masa depan, kekuatan, dan harapan umat menjadi generasi yang tidak terbimbing. Mereka tidak perhatian dengan shalat. Jauh dari masjid. Merokok. Berkumpul dalam kerusakan. Menyia-nyiakan waktu dalam permainan dan aktivitas yang tidak bermanfaat.

Sesungguhnya negeri kita ini, telah menjadi sasaran para pemangsa dan sekutu-sekutunya. Mereka telah menyiapkan rencana untuk menguasainya. Mereka gunakan segala wasilah untuk membuat lemah dan rapuh negara.

Mereka masukkan acara-acara televisi yang tidak bermanfaat, website-website yang merusak karakter keislaman dan kebangsaan. Sementara generasi muda kita tenggelam dalam perangkap tersebut. Di sisi lain, orang tua tidak memainkan peranan mereka dengan sebaik-baiknya.

Sesungguhnya kita benar-benar perlu bangkit dan menyadari kesalahan kita. Kita telah membuat generasi muda kita ini sia-sia. Sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang lemah. Sesungguhnya tidak perhatian dan tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat dalam kehidupan, menghantarkan kita pada keburukan dan kerugian.

Untuk memperbaiki hal ini, kita harus benar-benar sadar akan pentingnya memperhatikan anak. Dan betapa bahayanya menelantarkan mereka dalam pengasuhan ini. Kemudian setelah menyadarinya, barulah kita menempuh usaha ril. Yang paling utama adalah mendoakan mereka. Mendoakan mereka agar menjadi anak yang baik, mendapatkan hidayah, dan memperoleh banyak kebaikan. Teladanilah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ia mendoakan keturunannya.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” [Quran Ibrahim: 40].

Demikian juga Ibradurrahman, mereka berdoa kepada Allah, agar Dia mengaruniakan kepada mereka keturunan yang menyenangkan hati.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [Quran Al-Furqan: 74].

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud, dan dihasankan oleh al-Albani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ“.

“Tiga doa yang akan dikabulkan tidak ada keraguan sedikitpun. Doanya orangtua, doanya orang yang bepergian dan doanya orang yang dizalimi.”

Cara lainnya untuk mendidik anak adalah menunjukkan kasih sayang dan lemah lembut terhadap mereka. Menjaga komunikasi dengan mereka. Betapa banyak masalah anatara orang tua dan anak disebabkan karena orang tua kurang meluangkan waktu bersama mereka. Ngorbol dan menunjukkan kasih sayang pada mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang perbuatan kasar terhadap anak-anak. Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

قَبَّلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيْمِيُّ جَالِسًا فَقَالَ الأَقْرَعُ: إِنَّ لِيْ عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا. فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium Hasan bin Ali. Saat itu, di sisi beliau ada Aqra’ bin Haabis at-Tamimiy sedang duduk. Aqra’ berkata, “Aku mempunyai sepuluh orang anak tidak pernah aku mencium seorang pun di antara mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh pada Aqra’ kemudian bersabda, “Barangsiapa yang tidak penyayang pasti tidak akan disayang.”

Di antara metode dalam mendidik anak adalah membiasakan mereka dengan sesuatu yang baik sejak kecil. Karena kebiasaan baik sejak kecial, dan jangan lupa, orang tua hendaknya menjadi teladan dalam kebaikan tersebut. Jangan sampai orang tua menyelisihi apa yang ia katakan keapda anaknya.

Kemudian membiasakan mereka tidak menyukai kemaksiatan dan pelakunya. Membuat mereka cinta pada ketaatan dan orang-orang yang taat. Sehingga anak akan terbiasa dalam hal tersebut. Membiasakan mereka mencitai orang baik, ulama, dan orang-orang shaleh. Memuliakan mereka dan menghormati mereka, sehingga anak pun akan meneladani perbuatan demikian.

Kemudian kita membenci maksiat dan ahli maksiat. Jika melihat suatu perkara maksiat atau mereka melihat gambar-gambar, mendengar musik, atau perbuatan dosa lainnya, langsung ingkari perbuatan tersebut. Agar mereka paham kalau hal tersebut tercela.

Bersungguh-sungguhlah dalam menasihati dan membimbing anak-anak. Selalu perhatikan mereka. Sertai ucapan kita dengan praktik langsung dari kita. Perhatikan kemana mereka pergi, siapa teman mereka, bagaimana keadaan mereka di sekolah, apa yang mereka baca, dengar, dan tonton. Tentu hal ini dilakukan dengan bijak, agar anak tidak merasa terkekang.[]

Wallaahu Ta’ala A’lam.

.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.

Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.