Diantara hal yang tengah menjadi perbincangan di masyarakat sekarang ini adalah ditangkapnya seseorang yang di”ustadz”kan, oleh karena merangkap sebagai bandar sabu-sabu.

Ya, seorang pria di Jawa Timur yang berprofesi sebagai pengajar di pondok pesantren ditangkap aparat Polres Bangkalan, Jawa Timur karena menjadi bandar narkoba jenis sabu. Konyolnya, Ahmad Marzuki, yang sehari-hari biasa dipanggil ustadz ini mengaku perbuatannya ini tidak melawan hukum.

Bahkan ia mengklaim sabu halal dikonsumsi karena tak ada dalil yang mengharamkan sabu-sabu di Alquran. Dia juga menyediakan sabu kepada santrinya yang ingin membeli dan mengajarkan kepada mereka bahwa sabu halal dikonsumsi. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi roojiuun

Pembaca yang dirahmati Allah, kasus di atas sedikit banyak menggambarkan kepada kita tentang masih tersebarnya kebodohan di tengah-tengah ummat, dan selayaknya ini menjadi tanggung jawab kita pada umumnya serta para aalim ulama kita khususnya untuk lebih giat mempelajari serta mendakwahkan agama ini dengan pemahaman yang baik dan benar.

Lantas, benarkah sabu-sabu memang tidak dilarang dalam Islam???

Kerancuan perihal yang memabukkan memang sudah muncul sejak lama di sebagian kalangan masyarakat awam. Yang banyak diketahui pada umumnya hanyalah Khomr, yang terlanjur difahami sebagai minuman beralkohol.

Para ulama pakar fiqih berselisih pendapat dalam menentukan definisi khomr secara istilah.

Pendapat pertama yang mengatakan bahwa khomr itu meliputi segala sesuatu yang memabukkan sedikit ataupun banyak, baik berasal dari anggur, kurma, gandum, atau yang lainnya. Pendapat ini dipilih oleh para ulama Madinah, ulama-ulama Hijaz, para pakar hadits, ulama Hambali, dan sebagian ulama Syafi’iyyah.

Dalil dari pendapat pertama ini sebagai berikut.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Setiap yang memabukkan adalah khomr. Setiap yang memabukkan pastilah haram.

Berikutnya Ibnu ‘Umar juga pernah mendengar ayahnya –‘Umar bin Khottob- berkhutbah di mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ‘Umar mengatakan,

أَمَّا بَعْدُ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ نَزَلَ تَحْرِيمُ الْخَمْرِ وَهْىَ مِنْ خَمْسَةٍ ، مِنَ الْعِنَبِ وَالتَّمْرِ وَالْعَسَلِ وَالْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ ، وَالْخَمْرُ مَا خَامَرَ الْعَقْلَ

Amma ba’du. Wahai sekalian manusia, Allah telah menurunkan pengharaman khomr. Dan khomr itu berasal dari lima macam: anggur, kurma, madu lebah, hinthoh (gandum), dan sya’ir (gandum). Khomr adalah segala sesuatu yang dapat menutupi akal.

Pendapat kedua yang mengatakan bahwa yang dimaksud khomr adalah anggur yang diperas jika berefek memabukkan. Pendapat ini dianut oleh mayoritas ulama Syafi’iyyah, murid Abu Hanifah seperti Abu Yusuf dan Muhammad, dan sebagian ulama Malikiyah. Pendapat ini asalnya adalah dari defisi khomr secara bahasa.

Di antara dua pendapat di atas, pendapat pertama dinilai lebih tepat dengan beberapa alasan berikut.

Pertama: Dalil syar’i lebih mesti didahulukan daripada definisi bahasa. Perasan anggur adalah pengertian khomr secara bahasa. Sedangkan secara sya’i, khomr bermakna lebih luas yaitu segala sesuatu yang memabukkan, baik berasal dari perasan anggur, perasan kurma, dan lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Yang semestinya diketahui dengan seksama bahwa lafazh yang terdapat dalam Al Qur’an dan Al Hadits jika telah diketahui tafsirannya dan pengertiannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka seharusnya tidak perlu menoleh lagi pada berbagai hujjah yang disampaikan oleh pakar bahasa dan lainnya.”

Kedua: Jika khomr dibatasi hanya pada perasan kurma, berarti kita telah mengeluarkan berbagai macaman minuman yang memabukkan dari definisi khomr. Padahal definisi khomr yang tepat adalah sebagaimana hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu segala sesuatu yang memabukkan. Jika melakukan demikian, maka itu berarti kita telah melakukan taqshir (pengurangan) dan taqshir termasuk bentuk kelewatan dalam batasan-batasan Allah. Jika kita menetapkan bahwa segala sesuatu yang memabukkan, maka kita pun tidak perlu berdalil dengan qiyas untuk menetapkan hukum bagi minuman yang memabukkan lainnya.

Ketiga: Di Madinah dulu, tidak ada satu pun khomr yang terbuat dari anggur. Malah khomr yang ada terbuat dari kurma.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Kata khomr yang terdapat dalam bahasa Arab yang digunakan dalam Al Qur’an mencakup segala sesuatu yang memabukkan baik itu kurma dan selainnya, tidak dikhususkan hanya pada anggur saja. Ada riwayat shahih yang bisa dijadikan hujjah dalam masalah ini. Tatkala khomr diharamkan di Madinah An Nabawiyyah (setelah perang Uhud) pada tahun 3 H, pada saat itu tidak ada satu pun khomr yang terbuat dari anggur karena tidak ada pohon anggur ketika itu. Khomr penduduk Madinah yang ada berasal dari kurma. Tatkala Allah mengharamkan khomr, penduduk Madinah menuangkan khomr mereka atas perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan mereka menghancurkan bejana khomr  yang ada. Mereka menyebut minuman yang dihancurkan tadi dengan khomr. Oleh karena itu, diketahui bahwa kata khomr dalam Al Qur’an itu lebih umum dan bukan hanya dikhususkan pada perasan anggur saja.”

Kesimpulan: Khomr adalah segala sesuatu yang memabukkan, bukan hanya dibatasi pada perasan anggur saja.

Dari definisi di atas, setiap yang mengacaukan/menutup akal atau menghilangkan kesadaran termasuk khomr. Hal ini berdasarkan perkataan ‘Umar bin Al Khottob,

وَالْخَمْرُ مَا خَامَرَ الْعَقْلَ

Khomr adalah segala sesuatu yang dapat menutupi (mengacaukan) akal.

Oleh karena itu, yang juga termasuk khomr adalah narkotik, sabu-sabu, ganja, heroin, morfin, ekstasi dan segala macam zat adiktif yang dapat menutup akal, membuat sakau dan tidak sadarkan diri. Narkotik dan semacamnya tadi dihukumi haram berdasarkan kesepakatan para ulama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya, “Apakah narkotik (atau semacamnya) boleh dikonsumsi karena ada sebagian orang yang membolehkan untuk mengkonsumsinya?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Mengkonsumsi narkotik semacam ini adalah haram. Zat semacam itu adalah sejelek-jelek makanan, baik dikonsumsi sedikit ataupun banyak. Kebanyakan zat yang memabukkan dari zat semacam itu adalah haram berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Barangsiapa yang menganggapnya halal, maka sungguh dia telah kafir dan harus dimintai pertaubatannya. Jika tidak, maka dia harus dibunuh karena dianggap kafir murtad.” (Al Majmu’ Fatawa 34/187-188, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H).

Wallaahu Ta’ala A’lam[]

.

Oct/rumahhufazh.or.id

______________________________________________________________

Ayo bantu program berantas buta huruf Al-Quran bersama LPI-RH. Enam puluh lima persen penduduk Indonesia masih buta huruf Al-Quran.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan untuk membantu program kami.

LPI-RH melakukan penyaluran kepada lebih dari 20 penerima manfaat setiap bulannya, dengan penyaluran rata-rata 20 juta per bulan dan menghasilkan lebih dari 180 aktivitas pendidikan masyarakat per bulan.

Karena komitmen LPI-RH adalah mendorong SDM Pendidik dan Pendakwah membina masyarakat Islam. Kami peduli dan kami ajak Anda peduli.

Ayo donasi minimal Rp.100.000/bulan ke no.rekening,

BSM 70 9157 3525 a.n Yayasan Rumah Hufazh QQ Infaq

Konfirmasi ke 08961324556.





Print Friendly, PDF & Email
rumahhufazh.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.